Dugem Vs Tarik Tambang

Dugem Vs Tarik Tambang
Lembayung – SOLO the spirit of java

Sambil mengendarai motor, saya lirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanan saya. Hm… sudah jam 23:05. Lumayan larut untuk mencari warung makan. Pilihan terakhir yang bisa saya andalkan jelas adalah angkringan Lik Gembus yang pasti jam segini sedang ramai-ramainya. Benar saja, dari kejauhan sudah saya lihat bergundul-gundul kepala bergerak-gerak maju mundur, tidak serentak sih, tapi hampir semua kepala itu bergerak. Ciri-ciri kalau di angkringan itu sedang ada obrolan yang gayeng sehingga semua bisa tertawa terbahak-bahak berbarengan.

Perlahan saya parkir motor tepat di samping angkringan itu. Celingak-celinguk mencari tempat duduk yang kosong.
”Lho, Mbak Cenil, sendirian?” sapa Lik Gembus hangat seperti biasa.

”Lha ya iya tho Lik, sendirian, memangnya saya mau ngajak siapa? Wong masih joker gini lho…. Jomblo Kerennn!! Hahaha…” jawab saya sambil menjejalkan pantat tepat di tengah-tengah dua orang bapak-bapak paruh-baya yang menggerutu melihat kelakuan saya.

”Mbak Cenil ini kaya pantatnya kecil aja lho…. sempit ini!!!” protes Pak Kliwon, yang duduk di sebelah kiri saya. Saya cuma nyengir lebar sambil membenturkan bahu kiri saya tepat di bahu kanan Pak Kliwon.

”Saking pundi tho Mbak, kok jam segini baru pulang?” tanya Lik Gembus sambil membuatkan teh tawar panas pesanan saya. Saya tersenyum memikirkan Lik Gembus mengatakan ”pulang”… padahal saya belum pulang ke kost-an… Jelas Lik Gembus beranggapan bahwa angkringannya ini adalah rumah kost saya, meski saya belum pernah menunggui Lik Gembus sampai menutup angkringnya. Saya kok merasa terharu, dia beranggapan demikian.

”Saya habis dari club, Lik. Ada teman saya ulang tahun.” jawab saya sambil mengambil sebungkus nasi prithilan bandeng (karena memang ikan bandengnya lebih kecil daripada kelingking bayi umur 1 bulan). Baru sadar ternyata perut saya terasa perih karena sedari sore tadi hanya terisi sepiring kecil kacang bawang, satu biji croissant, dan segelas kecil Gin Tonic.

”Club itu kalau dulu sebutannya diskotik,Lik. Sekarang disebutnya kelap. Tulisannya C L U B ” imbuh saya setelah melihat reaksinya yang menaikkan dua buah alisnya. ”Teman saya ulang tahun, jadi saya ditraktir ke sana. Sebenarnya acaranya belum selesai sih tapi saya pamit duluan. Pusing kepala saya dengar musik jedak-jeduk-jedak-jeduk, dan lampu warna-warni berputar-putar di seluruh ruangan. Lagipula saya wong ndeso, kalau belum ketemu nasi kok rasanya belum makan. Hahaha….”

”Lha jebul ada acara ulang tahunan to, makanya ndak bisa datang rapat karang taruna nggih?” tanya Lik Gembus tanpa bermaksud menyindir saya. Nadanya memang murni hanya sekedar bertanya.

Asem ik, saya kok merasa tertampar dengan pertanyaan tanpa maksud terselubung itu. Saya sebenarnya tidak lupa kalau sore ini jam 19:00 ada rapat karang taruna untuk membahas tentang acara malam tirakatan memperingati hari kemerdekaan. Tapi jelas, tanpa berpikir dua kali saya memilih ke pesta ultah teman saya, meski pada akhirnya saya malah tak bisa menikmatinya. Maunya jadi anak gaul, eeehh…. apa daya, sekali ndeso tetap ndeso.

Saya berpura-pura menikmati nasi prithilan bandeng itu, karena tak tahu harus merespon bagaimana pertanyaan Lik Gembus tadi. Sambil sesekali mata saya melirik Lik Gembus yang sedang melayani pembeli yang lain. Tiba-tiba saya melihat ada yang aneh dengan gerak-gerik Lik Gembus. Seperti tidak biasanya. Berulang kali saya lihat Lik Gembus memegang pinggangnya sebelah kanan sambil nyengir seperti menahan sakit.

”Lho, pinggang sampeyan kenapa,Lik?” tanya saya sambil terus meneliti gerak-geriknya.

”Lha ya itu Mbak, panjenengan tahu dukun urut yang cengpleng ndak? Kemaren lusa waktu saya mengangkat ember air kok sepertinya jadi salah urat. Sudah saya bawa ke dukun urut kampung sebelah itu tapi kok ya masih sakit, belum fit seratus prosen jhe… gimana ya ini?” jawabnya sambil menyingkapkan kaos biru dongker yang biru-nya (atau dongker-nya?) sudah memudar itu. Terlihat lilitan setagen warna hijau kluwuk. Asumsi saya pasti pinjam kepunyaan istrinya. Spontan saya tertawa ngakak melihat Lik Gembus memakai setagen sambil memutarkan tubuhnya bak peragawan.

Sekarang gantian Lik Gembus yang cemberut yang ekpresi wajahnya berubah-ubah dari mangkel – memelas – mangkel – memelas…. seperti menyumpahi saya kalau saja saya juga sakit pinggang seperti yang sekarang dia rasakan ini.

”Puuunnn…. jan panjenengan itu sama saja kayak yang lainnya ini lho Mbak Cenil… Dari tadi semua pada nggodain saya gara-gara saya pakai setagen seperti ini. Katanya gara-gara setagennya saya pinjam, istri saya malah klekaran tiduran di kamar terus karena nggak bisa pakai jarik. Harusnya saya nggak jualan tapi nemanin istri saya, gitu kata mereka ini. Memangnya kalau nemani istri saya ya mau ngapain Mbak, lha wong pinggang ini nggak bisa diajak hot gitu lho….” protes Lik Gembus dengan mulut mewek menahan sebal.

Sekali lagi saya tidak bisa menahan ketawa saya, apalagi ketika saya tahu bahwa bahan obrolan yang gayeng ketika saya lihat dari atas sepeda motor saya tadi adalah soal setagen Lik Gembus.

“Saya nggak tahu tukang urut yang bagus,Lik. Wong saya tidak pernah pijit-urut kok. Takut kecanduan. Lho, memangnya ada apa tho Lik, kok buru-buru pengen cepat sembuh? Sudah kebelet anu ya….” tanya saya cekikikan tanpa menyelesaikan kalimat saya. Cekikikan saya langsung dibarengi dengan cekakakan Pak Kliwon dan beberapa pembeli angkringan itu. ”Iyo itu Mbak Ceniiillll…., sudah nggak tahannnnn… arrrgghhh….” Pak Kliwon menambahkan sambil tertawa lebih keras lagi. Bahunya naik-turun dengan cepat, kepalanya maju-mundur dengan gerakan ritmis.
”Hush…., kalian semua itu seneng yak kalo saya menderita. Wis jan tenan! (lalu matanya melihat ke saya) Anu Mbak, bukan begitu. Saya mau cepat sembuh karena minggu depan itu kan ada pertandingan tarik tambang dalam rangka tujuh-belasan. Saya setiap tahun kan pasti jadi tim inti, Mbak. Lha kalau sakit begini apa ya nanti saya bisa main?” jawab Lik Gembus sambil menatap saya dengan memelas.

”Lha yo ndak usah ikut dulu Lik, biar diganti yang lain saja tho. Lagipula kan memang belum sembuh tho? Jangan memaksakan diri. Wong cuma lomba tarik tambang saja kok.” saran saya sambil minta dibuatkan lagi teh tawar panas gelas kedua.

”Weh…, ya ndak bisa gitu tho Mbak. Ini lomba lho!! Dalam rangka memperingati tujuh-belas Agustus! Hari kemerdekaan bangsa kita,Mbak!! Mosok ya kita menyerah berpartisipasi hanya karena lara boyok? Sakit pinggang? Waaaahh….. ngisin-isini Mbak, memalukannnnn….. Saya yakin kok, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Bung Tomo itu dulu juga pernah mengalami sakit pinggang. Tapi apa ya mereka njur cuti dulu berjuangnya gara-gara sakit pinggang? Kan nggih mboten tho? Nggak kan Mbak? Makanya, saya harus cari dukun urut yang jos gandhos top markotop untuk menyembuhkan saya! Pesta kemerdekaan lho Mbak, mosok ya ndak ikut merayakan?!”

Plakkkk….. sekali lagi saya ditampar. Kali ini lebih keras. Saya, yang notabene mahasiswa, generasi harapan bangsa, ujung tombak pergerakan demokrasi, yang harusnya menjadi pribadi-pribadi yang kritis, idealis dan nasionalis, memilih pergi ke pesta ulang tahun, jingkrak-jingkrak dugem (meski akhirnya pusing sendiri), daripada datang rapat karang taruna dimana bisa dipastikan sumbang saran saya akan menjadi masukan yang berguna demi pelaksanaan malam tirakatan perayaan pesta kemerdekaan bangsa kita. Di lain sisi, Lik Gembus blingsatan, kebingungan, dan sedih membayangkan tidak akan bisa mengikuti lomba tarik tambang hanya gara-gara sakit pinggang. Kalut gara-gara tidak bisa ikut menyumbangkan apa yang dia punya untuk merayakan pesta kemerdekaan bangsa. Lik Gembus berupaya keras mencari cara agar sakit pinggangnya bisa diatasi dan dia bisa berlaga pada medan tarik tambang. Hm… dua pesta yang berbeda… dan saya memilih pesta yang salah.

”Lik, ini namanya arak gosok. Oleskan saja di pinggangmu. Panas buanget, tapi ini manjur. Semoga cepat sembuh ya, pokoknya besok saya jadi suporter sampeyan!” kata saya sambil menyerahkan sebotol kecil arak gosok persediaan saya di kost, setelah saya sempat lari ke kost sebentar untuk mengambilkannya.

”Suporter untuk pertandingan yang mana ini, Mbak Cenil? Yang di lapangan apa yang di kamar? Wahahahaha…. ” Pak Kliwon menyahut sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, pertanda dia akan segera pulang.

Saya cuma nyengir sambil mengedipkan sebelah mata.

Cheers,

Lby (10/08/09;14:45)


About this entry