Tempe Gembus, Lik Gembus, dan Berita Saru

By: lembayung – SOLO the spirit of java 

 

“Wah…, tumben Mbak Cenil jam segini sudah nongol!!!” sapa Lik Gembus, pemilik angkringan di dekat kost-an saya. Memang sore ini kadingaren, alias di luar kebiasaan karena baru saja terdengar adzan maghrib tapi saya sudah nongkrong di sana.

”Iyo Lik, lagi bete ini, anak kost pergi semua, daripada ngelamun jorok lak yo mending nongkrong di sini to…, ada temannya.” jawab saya sambil memperhatikan Lik Gembus yang sedang membuat api arang.

”Halah, opo yo priyayi puteri itu suka ngelamun jorok to Mbak? Biasanya yang suka jorok-jorok itu kan laki-laki, nggih?” tanya Lik Gembus. Wah…, ini dia…., barangkali masih penganut paham perempuan itu harus yang baik-baik, pandangan berbau konservatif, dengan tingkat diskriminasi terselubung yang tinggi.

”Lho, lha ya perempuan sama laki-laki itu opo bedanya Lik? Wong ya sama-sama punya mata buat bisa lihat yang cantik dan ganteng, lihat betis indah, lihat perut sixpack, lihat dada penuh, dan juga lihat dada bidang? Sama-sama punya pikiran yang bisa membayangkan sedang jalan digandeng cowok nggantheng, membayangkan dicium cewek yang cantiknya seperti Dian Sastro? Huayooo…. rak yo sami mawon to? Sama saja?” cerocos saya sambil memilih-milih tempe gembus goreng yang tipis-tipis.

Sambil menunggu jawabannya, saya letakkan dua tempe gembus goreng itu di atas planggrangan untuk dibakar di atas arang. Saya lihat Lik Gembus masih sibuk menata gelas dan piring kecil di pojok gerobak angkringnya. Saya tidak sabar menunggu jawabannya yang selalu ngeyel itu. Ngeyelnya itu selalu membuat saya kangen, karena meskipun ngeyel, Lik Gembus tidak pernah hanya sekedar ngeyel.

”Lha iya to Mbak Cenil, memang perempuan dan laki-laki itu sama-sama punya perasaan, pikiran, mata, telinga, hidung, kepala, pundak, lutut-kaki-lutut-kaki, lha tapi kan yang namanya perempuan itu kan ya tetap perempuan, nantinya akan jadi sosok ibu, yang akan menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Ibu adalah sosok perempuan yang halus, kuat, dan sekaligus suci. Ya nggak pantes ah kalo perempuan itu suka ngelamun yang jorok-jorok. Saru!” jawab Lik Gembus menghitung nasi bungkus yang baru saja dikeluarkannya dari tas kresek hitam besar.

Wah…ini…., ini dia kalau sudah keluar statement ”yang namanya perempuan ya tetap perempuan…” susah ini…. membatasi kaum saya untuk maju. Pikiran saya menerawang jauh melintasi kepul api arang yang membakar tempe gembus saya… baru-baru ini saya sebenarnya juga prihatin dengan perkembangan teknologi informasi terutama yang berhubungan dengan media yang semakin menyajikan kevulgaran erotisme, terutama pada media online yang notabene lebih banyak diakses oleh orang-orang yang berpendidikan, yang sebenarnya mereka bisa memilih dengan bijak berita-berita apa yang akan diakses.

Di Indonesia, internet hanya masih merupakan milik strata tertentu saja, dan orang-orang seperti Lik Gembus, tukang-tukang becak, dan gerombolan kaum proletar tidak pernah tahu dan bersentuhan dengan yang namanya teknologi internet. Kalau saja Lik Gembus tahu bahwa erotisme online lebih heboh lagi, bisa jadi dia tambah geleng-geleng kepala (atau malah minta diajari akses internet?). Saya jadi ingat juga dengan sebuah media yang menampung berbagai artikel dari berbagai penulis yang sarat dengan informasi, bukan website khusus seks. Apa pun bentuk artikel itu, saya tetap menganggapnya sebagai sumber informasi yang bisa membuka wacana saya dalam berbagai hal.

Ada yang unik yang berkaitan dengan debat saya dengan Lik Gembus tadi, bahwa ada artikel yang selalu berinfokan tentang kevulgaran erotisme yang selalu banyak diklik oleh pembaca, dan ternyata penulisnya adalah seorang perempuan. Nah lho Lik, ternyata perempuan itu kok ya berbakat berimajinasi. Hebat berfantasi. Mungkin dalam bahasanya Lik Gembus itu mikir yang saru-saru kali ya. Tulisannya memang sarat informasi, banyak sekali yang bisa didapat dari artikel itu. Dengan penyajian yang menarik, sedikit nyerempet-nyerempet, akan sangat asyik dibaca, membangun dunia kita sendiri. Mungkin suatu saat nanti artikel itu perlu saya print untuk saya tunjukkan kepada Lik Gembus. Lha tapi apa ya dia itu mengenal dildo, vagina getar, dan kondom bergerigi? Apa dia juga tidak pingsan kalau tahu yang menulisnya adalah seorang perempuan?

”Lho, Mbak…. kok malah ngalamun to? Jangan-jangan mikir saru ya?” tegur Lik Gembus sambil menyajikan wedang jahe gepuk pesanan saya. Saya tersentak kaget.

 “Hush, Lik Gembus nih lho…, ngawur aja. Anu Lik, saya mau cerita kalau ada seorang penulis yang spesialis nulis artikel esek-esek, tapi penulisnya itu perempuan lho Lik. Tulisannya juga bagus, informatif dan menghibur. Pembacanya juga buanyak. Mau ndak saya kasih artikelnya?”

“Weeeehhh….??!!!! Lha masak sing nulis begituan itu priyayi puteri to Mbak? Tenane??!!” sahut Lik Gembus tidak percaya. “Lho, kalau yang nulis perempuan memangnya kenapa,Lik? Wong yang punya hasrat seks itu ndak cuma laki-laki lho. Istri sampeyan kan ya bergairah to sama sampeyan? Mosok cuma sampeyan tok yang nyeruduk lho!! Menulis juga sama saja, laki-laki, perempuan, punya kesempatan dan hak yang sama.” kali ini saya kok lebih ngeyel daripada dia.

”Waaa…, wis jan repot tenan iki. Sekarang saya tanya sama Mbak Cenil. Apa ya Mbak itu suka baca tulisan esek-esek? Hobi gitu? Lha wong koran-koran mesum aja sering digropyok satpol-pp lho Mbak. Nanti kalo Mbak Cenil ketahuan suka baca begituan juga ikut digropyok!” tandas Lik Gembus. ”Hush Lik, ngawur wae. Saya memang sesekali baca artikel begituan, tapi tetap pilih-pilih Lik, cari yang ada informasinya, bukan yang mengumbar kevulgaran erotisme semata. Lagipula baca begituan lama-lama bikin saya mblenger,Lik. Lha piye, wong saya belum menikah jhe. Kalau saya kepengin lha saya mau sama siapa. Hahahaha….” jawab saya sambil menyeruput wedang jahe yang masih kepul-kepul uap panasnya.

”Puuun…..wis, nggak usah dibahas lagi Mbak Cenil, saya kok malah malu sendiri ngomongin begituan sama Mbak lho… sementara sampeyan malah ngomong terus cas cis cus tanpa rikuh risih. Sampeyan itu perempuan lho Mbak….., perempuan itu harus halus budi pekertinya, trengginas, tapi tetap santun. Lak yo begitu itu priyanyi jowo. Kalau memang apa itu net-net itu banyak berita saru-sarunya ya baca seperlunya saja, kalau tidak perlu ya mendingan baca yang lain, baca resep masakan misalnya, kan itu lebih keibuan, sesuai kodrat perempuan. Bagus buat sampeyan. Lak nggih to?” begitu nasehat Lik Gembus.

Saya merenungkan kata-katanya, yang malah membawa saya pada iklim komparasi, membandingkan antara perempuan jawa dan perempuan global, perempuan konservatif dan modern, perempuan konco wingking dan perempuan berpendidikan. Tetapi yang terngiang-ngiang di kepala saya kok malah kata-kata Lik Gembus, “yang namanya perempuan ya tetap perempuan…”

Segera saya bayar dua tempe gembus goreng dan satu gelas wedang jahe, lalu pamitan pada Lik Gembus. “Lho, tumben tergesa-gesa Mbak, apa mau ada acara?” tanya Lik Gembus sambil memberikan uang kembalian saya. “Yo Lik, mau buru-buru ke toko buku, beli kumpulan resep makanan. Wis yooo…”

 

Cheers, Lby (31/07/09;09:42)


About this entry