Saya Gila, Kamu Waras: So what geto lohh!!

Lembayung – SOLO the spirit of java

Guys,  kamu pasti tahu, kalau kamu dihasilkan dari perbedaan. Dilahirkan dari hasil persetubuhan dua kelamin yang berbeda, dilahirkan dari  hasil percumbuan dua lubang yang besarnya berbeda, dan dilahirkan dalam perbedaan suhu bunda dan ruang bersalin. Kamu dibesarkan dengan menu makan yang tidak melulu sejenis, bubur beras merah lagi dan lagi. Ada kalanya bundamu menyelingi makanmu dengan bubur kacang hijau, bubur rasa pisang, atau apel. Karena meskipun masih batita dan belum bisa berdemonstrasi menolak kebijakan politik keluarga, toh kamu sudah bisa menyuarakan ketidak-sukaanmu pada jenis makanan yang disuapkan ke mulutmu. Berbagai reaksi akan dapat terbaca oleh orang tuamu, mulai dari tidak mau makan, muntah, atau berak-berak cair (untuk mengganti menyebut kata ***cret), sehingga orang tuamu yang baik akan bisa menangkap maksudmu. Sebenarnya, sadar atau tidak sadar, kita sudah terbiasa (atau setidaknya dibiasakan) untuk hidup dalam perbedaan sejak kita diciptakan. Seiring berjalannya waktu kita akan semakin dihadapkan pada dunia nyata yang penuh dengan jutaan indikator kehidupan yang berdimensi pada perbedaan.

But, alias tetapi, alias ning, mengapa ketika kita beranjak dewasa dan mulai bisa menggunakan kedua bagian otak kiri dan kanan tidak malah membuat kita bijaksana dalam menyikapi perbedaan? (sengaja dibuat satu paragraf untuk satu kalimat saja supaya bisa agak direnungkan…)

Contoh kasus adalah soal kebebasan penyaluran aspirasi politik kita. Simbok saya adalah fans berat capres Joko Cengir, sedangkan bulik saya penganut setia capres Joni Cupu. So, mereka berdua mencontreng dua capres yang berbeda. Meski dalam rumah simbok saya mencerca habis-habisan capres Joni Cupu, tetapi ketika simbok dan bulik bertemu, mereka tetap asyik masyuk tukar cerita tentang aneka kue dan batik. Ranah pilihan capres tidak mereka singgung sama sekali, karena sudah tahu sama tahu dan saling mahfum atas pilihan dan pandangan masing-masing. Meskipun untuk tingkatan kaum intelektual, biasanya perbedaan ini justru akan dibahas, dijadikan bahan diskusi, untuk saling mengupas kedua sisi perbedaan ini secara menyeluruh tanpa bermaksud pemaksaan pengaruh satu kepada yang lain. Tetapi ya lumayanlah, untuk simbok dan bulik yang lulusan SMEA sudah bisa menghindari konflik hanya karena perbedaan pilihan pemimpin mereka.

Itu tadi contoh kasus soal penyaluran aspirasi politik. Bagaimana dengan kasus penyaluran aspirasi dari seorang penulis yang biasanya dituangkan dalam bentuk tulisan? Sejauh apakah kebebasan penulis itu mengeksplorasi ide-idenya? Dan seluas apakah ranah perbedaan yang we have to deal with dalam dunia jurnalistik? Tentu saja seorang penulis tidak akan memuaskan semua pihak, karena penulis pasti akan menyadari kemajemukan (baca:perbedaan) dari setiap pembacanya. Apakah penulis terbebani dengan dimensi perbedaan itu? Saya rasa mungkin sebagian ada yang iya, tapi yang tidak pun juga banyak. Lho, ternyata penulis pun juga majemuk to, penulis itu juga termasuk dalam dimensi perbedaan. Jadi seharusnya menjadi kewajaran jika penulis satu akan menghargai karya penulis yang lain, dan akan diikuti dengan pembaca yang satu akan menghargai pembaca yang lain. Jika meningkat ke arah yang lebih edukatif, para penulis akan saling mengkritisi dan memberi masukan pada hasil karya penulis yang lain. Seperti buku berjudul “Mengenal Umar Kayam Luar Dalam” tidak berisi layaknya memoir biasa yang hanya berisi pujian dan ulasan track record yang bagus dari sang tokoh, tetapi juga berisi artikel-artikel yang mengkritisi karya-karya beliau. Sang Umar Kayam memang sudah tidak bisa membaca (mungkin sih bisa juga membaca dari alam lain, saya kurang tahu karena belum pernah berkunjung ke sana), tetapi generasi penerusnya akan bisa membaca, merenungkan, dan belajar juga perbedaan yang ada. Jadi apakah perbedaan dalam dunia jurnalistik itu wajar? Bukan hanya wajar, tapi merupakan suatu keniscayaan dan sangat menggali kreativitas.

Bagaimana dengan perbedaan dalam kasus psikologi? Jika kamu menganggap dirimu waras, hampir semuanya tidak akan mau berdekatan dengan orang gila (kecuali profesimu dokter jiwa atau psikiater). Tapi bisakah kamu yang mengaku waras bersahabat dengan orang gila? Punya jalan hidup, dunia, dan pikiran yang berbeda, tetapi bisa saling bergandengan tangan berkaitan kaki? Bisa nggak hayo? Saya gila, kamu waras, so what gitu lohhh??!!!

Cheers,

Lby (18/07/09;12:23)

Note: artikel ini juga dimuat di http://nusantara-global.com/2009/07/20/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/


About this entry