Checking Me

girl-pinkLembayung – SOLO the spirit of java

“Hallo, ini Lembayung ya?” suara renyah seorang perempuan dari ujung kabel telepon jauh di sana. “Iya, ini siapa ya?” saya mengangkat telepon setelah dia 4 kali missed called. Saya memang termasuk enggan mengangkat telepon jika nomor yang muncul tak ada dalam phonebook saya. Maklum sok ngartis….. suka parno…hahahaha….. “Ini Pink.” Jawab perempuan itu lagi. “Pink? Pink siapa ya? Saya nggak punya teman namanya Pink.” Jawab saya masih sambil berusaha mengingat-ingat nama itu. Seperti tidak sabar perempuan itu menyahut cepat,”Masa sih nggak kenal saya?” (Yeeee…. Mana gw tau lu siapa, sok ngartis juga neh dia ternyata—-batin saya). Agak sedikit bete, saya munculkan saja jiwa narsis saya, “Waa… maaf ya, soalnya saya memang sering banget ditelponin sama orang yang saya nggak kenal, maklum…saya kan banyak fans-nya….hahahahaha….” canda saya sambil tertawa ngakak di telepon. Sahutan tertawa terkikik menyambung saya di seberang sana.

“Yung, ini aku…” tiba-tiba suara telepon berubah menjadi suara laki-laki yang sepertinya suara itu sangat familiar sekali di kuping saya. Hm…. suara itu suara laki-laki yang pernah memberi saya udara setiap pagi, siang, sore, dan malam selama lima tahun… Mendengar suara itu, otak saya berputar cepat, berarti Pink adalah pacar barunya yang ingin dikenalkan ke saya. Hm…. Okey…. kita lihat jenis drama yang bagaimana arahnya….

“Ya, kenapa? Ada yang bisa dibanting eh dibantu? He…he…he…” berusaha untuk bercanda, padahal kaget bener dengan manuver mereka. “Nggak, tuh si Pink cuma pengen kenal sama kamu, katanya sih pengen nge-check apa benar di antara kita sudah nggak ada apa-apa.” kata si mister mantan ini. Weks.. ada apa pulak ini…. Lalu suara berubah lagi menjadi suara Pink yang mengajak ngobrol sana-sini, saya pun sesekali mengeluarkan joke-joke yang membuat dia tertawa terkekeh-kekeh. Diusahakan begini sih, daripada ngomong serius yang ujung-ujungnya pasti korek-korek memori biru.

Saya tidak tahu dengan pasti apa motif phone-call yang beginian, apa benar ingin ‘sekedar’ berkenalan, apa benar ingin ‘sekedar’ checking me, apa benar ingin memastikan kalau suara saya emang bagus (halah…kenapa ya akhir-akhir ini saya suka kumat narji-nya, hi..hi…hi…), pokoknya intinya saya benar-benar dibingungkan dengan telepon itu.

Bau-bau curigesyen memang kental tercium, dan menurut pandangan saya sepertinya itu tidak berdasar sama sekali. Wong saya sama sekali nggak pernah sms mesra2-an sama si mister mantan, telpon pun sangat jarang, bertemu apa lagi, ya saya tahu dirilah…., berusaha membatasi diri sendiri, berusaha menempatkan diri jadi si Pink yang pasti jelas nggak suka cowoknya masih ada benang tipis sama mantannya, apapun warna benang itu…. Lagipula saya memang pernah berada pada posisi Pink, bedanya si mister mantan waktu itu ber-benang-an bukan sama miss mantan, tetapi sama miss-another-girlfriend. Ha…ha…ha… (kali ini sih sudah bisa cerita sambil ngakak, lah duluuuu…boro-boro….huwaa….).

Beruntung tak begitu susah membatasi diri, dengan alasan berbagai kesibukan dunia kerja dan kuliah, saya beberapa kali melewatkan telpon, sms, dan pertemuan ketika dia mengakui sudah punya pacar lagi. Bukan alasan yang dibuat-buat, tetapi kok pas banget ya?

Berdasarkan penalaran saya sih, nggak akan mungkin juga si Pink ini tiba-tiba curiga sama saya kalau tidak ada alasan-alasan yang jelas. He…he…he… Saya nggak tanya sih sama Pink, kenapa dia curiga, tetapi untuk menetralisir ya saya bilang saja sama dia kalo si mister mantan ini memang pernah curhat soal Pink. “Dia bilang you’re the best,Pink… And he loves you so much… makanya aku bilang sama dia, udah…., kamu cepetan nikah aja sama dia, mau cari yang gimana lagi, kan udah the best tuh?!” Pink menjawab , “Masa sih dia ngomong begitu?” saya seperti bisa melihat ekspresi wajah Pink yang bahagia dari nada suaranya yang jernih dan segar. Sepertinya hati saya ikut terbawa terbang…. ringan….

Saya tidak tahu apakah saya bisa berteman dengan Pink. Berteman yang bagaimana pula modelnya? Meskipun saya berani meng-claim sudah tak ada benang lagi antara saya dan si mister mantan, tetapi apa ada kemungkinan bisa berteman, bersahabat, atau apalah namanya dengan si Pink, seperti yang diharapkan si mister mantan. Mungkin saya perlu membiasakan diri? Atau mungkin saya perlu menghindarkan diri? Entahlah… yang jelas berhadapan dengan perempuan memang selalu membuat saya kesulitan…

Cheers,

Lby (10/11/08:13:01)—- Selamat hari pahlawan!!!! —. I’m a hero of myself… halah…

PS: To Pink, yang ternyata juga silent-reader KoKi, thanks for reading my articles, padahal aku ada beberapa kali sebutin si mister mantan dalam artikel, but yakin deh, itu cuma ornament aja kok, kqkqkqkq… you’re the best, keep saying those words….


About this entry