Hi Friends: Bagaimana Menyatakan Cinta?

By: Lembayung n Bagong Julianto

Ada banyak cara untuk menyatakan cinta. Rumus yang baku, jelas tidak ada. Banyak faktor yang mempengaruhi kenikmatan dan kemantapan rasa dalam memasak dan menyajikan sebentuk cinta. Tipikal orang, ekspektasi, lingkungan, behaviour, tingkat pendidikan dan masih banyak lagi faktor yang bisa membuat pernyataan cinta membutuhkan berbagai macam bumbu dan cara memasak untuk mendapatkan sajian masakan yang sama. Khas. Unik. ’Nyentrik. Satu jenis sajian masakan yang sama, bisa dimasak dengan berbagai macam variasi bumbu, dan berbagai macam teknik memasak.

Generasi tua dulu, tak perlu banyak pernyataan cinta. Langsung orang tua datang melamar dengan semangat idiom: “witing tresna jalaran saka kulina”, cinta kasih sayang itu bakalan tumbuh oleh kebersamaan! Tak ada pacar-pacaran, tak ada wakuncar, tak ada dua-dua-an yang nenek bilang itu berbahaya. Tidak ada gerakan bawah tanah, pun juga gesekan bawah meja, gerilya, bahkan tidak mengenal back street. Setidaknya itu cerita nenek saya.

Sebelum ada handphone, cara menyatakan cinta adalah dengan menggunakan selembar surat warna merah jambu yang wangi. Bahkan saking wanginya kadangkala malah membuat yang membaca pusing, mabuk aroma. Ujung-ujungnya malah jadi malas menyelesaikan membaca. Padahal inti suratnya “Would you be my girlfriend?” ada di kalimat terakhir pada paragraph paling akhir. Konon pada masa PDKT, surat-suratan ini pada NB atau PSnya saling berbalas pantun pula: 4 X 4 = 16, sempat tak sempat, mesti dibalas……whuuahhh! Jaman sekarang entah masih berapa persen cara menyatakan cinta via surat seperti ini. Jaman digital telah menghapus peran perantara/comblang cintrong: entahkah Pak Pos, entahkah sohib karib, entahkah pihak lain. Urusan cinta yang jadul prosesnya melibatkan banyak pihak, sekarang diputusretas oleh teknologi. Jadul cinta personal dilibat komunal, sekarang handphone, email dan SMS adalah saksi yang bisu atau saksi yang bertulis?! Betul-betul urusan personal. Teknologi: mendekatkan sekaligus menyendirikan orang. Teknologi ternyata lebih efektif dibanding biro jodoh, komunitas tertentu, atau bahkan perjodohan sepihak oleh orang tua.

Selain itu semua, ada cara yang tak lekang dimakan jaman, tak luntur digerus arus, yaitu langsung menyatakan kepada yang bersangkutan sambil menatap matanya dalam-dalam. Baik jaman kakek-nenek sampai pada keponakan-keponakan saya yang masih kelas 1 SMP pun masih banyak yang mengadopsi cara ini. Tidak perlu banyak bantuan teknologi, dan bisa pula dilakukan se-ekonomis mungkin. Yang penting adalah punya nyali! Lhah, saya punya nyali!. Tapi tak tahu, cukup enggak yaaa?! Maksudnya adalah nyali untuk menerima pernyataan, lho! He2x, tapi kalau kepepet, apa boleh buat…..

Tetapi ketika kita mencintai seseorang dan hanya menyimpan rahasia itu untuk diri kita sendiri, apakah orang yang kita cintai bisa tahu ya? Karena orang itu tahu atau tidak bukanlah suatu masalah yang penting, setidaknya kita sudah menghidupkan dan menghiasi ruang hati kita dengan perhiasan paling berkilau di dunia ini. Which is called: CINTA!!. (LBY, SSoJ – Agustus2008)


“Laraning lara, nora koyo wong kang ’nandang wuyung…… Mangan ’ra doyan…..turu ’ra jenak…..”, Waljinah ataupun Nyi Tjondrolukito sama-sama cemengklingnya! Ada juga: ”Wong yen lagi gandrung, ’ra perduli mbhledhose gunung….”


About this entry