Pontianak

Beberapa tahun belakangan pada bulan-bulan tertentu selalu liat jalan banjir, seingatku saat kecil kejadian ini ngga pernah dech tapi kenapa tahun-tahun terakhir ini sering terjadi. Jika dibandingkan dengan Jawa yang hanya punya kali dan sungai kecil dimana-mana, lihat saja di Kalimantan dengan sungai besarnya. Sungai Kapuas yang membelah Pontianak ngga hanya terpanjang se Indonesia, tapi lebarnya juga mengalahkan yang ada di Jawa.

Jika lihat Jakarta banjir, memang sih kuakui parah, alasannya klasik karena tata kota yang berantakan, tidak memperhatikan ini itu…, ditambah alasan alam dimana Jakarta terletak dibawah permukaan laut. Tapi itu urusan penghuni sana, segala masalah penambahan rumah mengorbankan segala fasilitas penyerapan air dan bla…bla… di Jakarta adalah tanggung jawab stakeholdernya (bukan hanya pemerintah lho, misalnya buang sampah di kali sampai bikin penyumbatan kan salah masyarakat setempat).

Jika melihat kasus yang terjadi di Jakarta, kasus di Pontianak jelas berbeda. Lihat saja Sungai Kapuas yang membentang, terlihat bakalan menampung segala air yang seharusnya membanjiri Pontianak. Tapi kenapa jalanan masih sering terendam? Kenapa juga jika hujan deras sebentar saja langsung melihat jalanan yang terendam air… Ketika mengkilas balik ke masa kecilku, saya hanya tahu Pontianak dulu ngga pernah kebanjiran seperti sekarang….

Pontianak, pada jaman Belanda dulu dikenal dengan julukan Kota 1000 Parit (emank cuma Singkawang yang dibilang 1000 Klenteng hehe…). Kota ini dibangun diatas rawa, tentunya sebelum menjadi seperti sekarang (tanyakan dech ke kokiers asal Pontianak betul ngga kota ini didirikan diatas rawa). Dulu parit dimana-mana, baik parit besar maupun kecil, malah saat masih SD melihat orang nyuci di parit bukanlah hal aneh.

Kokiers dan readers dari Pontianak pasti tahu parit besar yang membelah jalan Diponegoro dan jalan Agus Salim, ketika saya masih kecil parit itu begitu bersih dan jernih, tapi coba lihat sekarang? Sudah hitam, butek, kotor, wah kalau dulu katanya banyak Ibu-Ibu pake sarung nyuci baju disana tapi sekarang mah ngga ada lagi hehe… (Lagian dengan keramaian jalan disana bikin malu aja kalo Ibu-Ibunya main air disana….). Jaman saya SMA, parit yang berada di jalan Gajahmada setiap pagi sambil nungguin bus di halte juga selalu terlihat jernih dengan ikan kecil berenang, tapi coba lihat sekarang? Sudah hitam…, sempit bahkan kotor dan bau…. (saya bahkan bingung gimana bersihkannya karena banyak bagian parit yang ditutup permanen dengan beton pada bagian atasnya oleh hotel-restoran-ruko-dll untuk dijadikan area parkir, akibatnya setiap penyumbatan dan terlihat sulit ditanggulangi).

Menyalahkan hotel-restoran-ruko yang menutup parit dari atas jelas tidak sepenuhnya yang harus disalahkan (dan saya berpandangan pemerintah salah karena tidak melarang atau mungkin memberi ijin penutupan permanen bagian atas parit dan juga penyempitan parit), ya setidaknya mereka bukan pihak yang membuang sampah kesana. Perhatikan saja para pembuang sampah yang gemar melempari kantung sampahnya ke parit, tapi dilihat-liat juga lokasi pembuangan sampah sendiri juga di dekat parit. Siapa yang punya ide meletakkan tempat pembuangan sampah di dekat parit ya? (ex. Simpang Gajahmada – Setia Budi).

Akankah beberapa tahun lagi Pontianak juga akan menjadi banjir melulu setiap musim hujan seperti beberapa tahun belakangan? Bagiku ini pertanyaan retoris….

Mungkin kita selalu melupakan hal yang pernah terjadi, tidak pernah menganggapnya serius lagi setelah lewat. Setelah banjir lewat dilupakan hingga banjir berikutnya datang…, seperti halnya kasus merkuri yang mencemari sungai beberapa tahun lalu, kasusnya tenggelam tanpa kejelasan hingga saat ini dan dilupakan oleh orang-orang… (dan ternyata kasus ini sudah sejak 80an/90an).

Saya sendiri bertanya-tanya mungkinkah Pontianak setiap tahun akan selalu terendam air dan apakah dari tahun ke tahun akan semakin parah…, kalau sekarang tidak ada tindakan preventif bukan tidak mungkin suatu saat rumah-rumah di Pontianak banyak yang bakalan kebanjiran… Saya sih bukannya pesimis tapi melihat kasus per kasus disini yang selalu nunggu korban baru buat perbaikan bukan tidak mungkin nunggu banjirnya sudah parah baru diperbaiki tata kotanya oleh pemerintah.

What a life…


About this entry