Fenomena Anjal Perempuan

By: Lembayung

Perpaduan antara jijik dan jengah memang selalu mengikuti setiap pandangan kita melihat anak-anak jalanan (anjal). Apalagi bila kita melihat anjal yang berkelamin perempuan. Ada nuansa justifikasi di sana. Tidak perlu berpura-pura, memang sudah menjadi stereotype kalau jalanan adalah tempat yang keras dan merusak. Means perempuan yang tinggal di jalan adalah perempuan rusak?

Anjal perempuan sungguh merupakan sebutan dalam posisi yang sangat dirugikan. Anak sebagai perwujudan dari subordinat orang dewasa, perempuan sebagai subordinat laki-laki, dan jalanan sebagai subordinat rumah baik-baik. Pernahkah sama-sama kita bayangkan betapa susahnya berada pada posisi mereka? Sebagai perempuan tanpa embel-embel anak dan jalanan saja terkadang membuat kita ingin terus mendobrak paradigma kuno yang patriarkal. Apalagi menjadi anjal perempuan?

Mereka tidak pernah bercita-cita menjadi anak jalanan. Silakan disurvey, apakah ada anak-anak TK dan SD yang bercita-cita demikian. Dokter dan menteri adalah cita-cita standar yang selalu terucap dari mulut mungil mereka. Mereka belum tahu kalau menteri-menteri kita sekarang sedang laris diintai KPK.

Banyak hal yang membuat anak perempuan terpaksa harus turun ke jalanan, kurangnya perhatian dari orang tua adalah sebab dasarnya. Orang tua yang terlalu sibuk bekerja (entah itu direktur atau tukang becak) yang kerjaannya kalau di rumah hanya marah-marah kepada anaknya bahkan sampai menyiksa secara fisik; disabet ikat pinggang, disundut rokok, dibentur-benturkan ke tembok, membuat anak-anak ini tidak betah di rumah dan lari ke jalan. Di jalan mereka akan menemukan teman-teman senasib dengannya, meski banyak harga lain yang harus dia bayar lagi untuk menikmati itu semua, hanya untuk sekedar merasa diperhatikan dan didengarkan.

Biasanya mereka akan bergabung dengan suatu genk anak jalanan yang akan melindungi mereka dari hal-hal yang mengancam hidupnya ketika berada di jalanan.

Tak jarang untuk menjadi anggota baru, calon anjal perempuan ini akan diperkosa ramai-ramai oleh seniornya sebagai tanda “pelantikan” anggota baru. Baru kemudian ke depannya bisa jadi dia akan menjadi pacar salah satu atau beberapa dari seniornya itu untuk melindunginya. Seks bebas lalu menjadi dunia baru baginya. Mereka tidak tahu, atau bisa juga tidak peduli kalau dengan dunia barunya itu mereka akan dekat sekali dengan berbagai penyakit menular seksual (PMS) dan rentan HIV/AIDS, dan yang jelas kehamilan yang tidak diharapkan. Mereka juga tidak berpikir jauh ke depan kalau biasanya pacarnya akan menolak menikahinya jika hamil, karena efek gaya hidup yang seperti itu. Dunia yang bebas itu membuat mereka melupakan rumah. Rumah yang bagi mereka hanya diingat sebagai neraka yang panas. Suatu pendapat yang kontradiktif sekali dengan dunia mereka sekarang.

Ada juga anak jalanan yang memang sejak lahir sudah berada di jalan. Artinya, keluarganya pun hidup di jalan, menjadi pemulung, pengamen di perempatan, atau hanya meminta-minta di sudut jalan. Bahkan sejak bayipun mereka sudah dilibatkan dan dieksploitasi untuk mencari uang dengan cara demikian. Ketika beranjak besar, sudah bisa jalan dan berbicara, mereka akan menjadi asset dan tambang emas bagi orang tuanya. Anak-anak itu sendiri mulai meminta-minta di lampu merah, mengamen ketika usia merangkak sedikit besar, dan ketika sudah bisa merasakan malu berdiri di lampu merah, para anjal perempuan ini banyak yang banting setir menjadi pelacur. Klop sudah stigma negatif orang selama ini tentang jalanan. Padahal tak jarang mereka pun disiksa oleh orang tuanya jika tidak menyetor sejumlah uang yang ditetapka setiap harinya. Sekali lagi bukan keadaan yang lega lila mereka jalani.

Saya tidak tahu siapa yang harus disalahkan, karena saya belum punya anak, belum pernah hidup dalam keluarga demikian, dan belum pernah memeluk kerasnya jalanan. Hanya saja ketika melihat perjalanan hidup dan perngorbanan anjal perempuan ini, saya jadi tidak berani lagi semena-mena memandang hina kepada mereka. Saya belum tentu bisa menjadi setangguh mereka di jalanan.


About this entry