Mentuhankan Logika

Night

Jika saja logika bisa menjawab semua yang saya pertanyakan, mungkin saya akan men-Tuhankan logika. Seperti halnya memperhatikan kenapa banyak orang yang sepertinya ingin berdebat dan bernegosiasi dengan Tuhan? Apa kita tau persis penilaianNya tentang mana yang dosa dan bukan? Tapi toh kita sering berhadapan dengan hal dilematis tentang dosa….

By the way, apa sih kata buatan manusia “bohong putih”, memangnya sejak kapan itu dilegalkan Tuhan? Sulit jika sudah menghadapinya…. , lagipula sejak SD oleh guru sudah diajarkan bohong itu dosa apapun alasannya, hanya saja setelah memasuki dunia dewasa…….

Saya memang memilih apa yang saya percayai, setiap dari kita memang demikian kan? Ngga mungkin donk kita tidak percaya pada hal yang kita percayai. Ada yang percaya jika ingin dunia damai maka sebaiknya kita harus bercinta, memangnya salah? Tapi kemudian ada yang bilang bercinta hanya boleh dilakukan pasutri, dosa namanya jika dilakukan sebelum dilegalkan agama. Saya tidak punya jawaban mutlak, hal seperti ini nantinya bisa menjadi argumentasi dibalas sanggahan emosi yang hasilnya akan remis. Adakah kesalahan yang membutuhkan pembenaran dalam hal ini?

Jika saja logika bisa selalu digunakan, berapa banyak kebodohan yang kulakukan demi yang disebut emosi? Emosi yang kubenarkan, ketika hati membenarkan emosiku. Emosi yang berlandaskan hati, kerelaan demi yang namanya hati, kebodohan demi yang namanya hati. Ketika emosi ini dikedepankan, logika juga tidak selalu digunakan…

Katanya sih Tuhan tidak memprioritaskan IQ untuk masuk surga, lagipula saya juga belum pernah menujunya. Tetapi toh dunia ini bukan surga, tetap saja di dunia ini IQ dan logika dan sejenisnya menjadi penting. Jika nilai merah semua berapa cibiran yang harus kita dengar? Terus kenapa ada yang IQ tinggi dan ada yang tiarap, dunia tidak adil? Memangnya manusia yang butuh dunia atau dunia yang butuh manusia? Jadi salah jika dunia tidak adil?

Mau berbuat baik juga karena iming-iming surga…., ah ternyata berbuat baik ada imbalan, masuk akal juga. Ini bisa diterima logika jika kebaikan imbalannya surga, berarti tuluskah kebaikan demikian?


About this entry