Panti Asuhan (lebih cocok disebut Panti Pembuangan Anak)

By: Lembayung

“Kena!!! Hore,hore, Putri ketangkep, Putri jadi!!!” terdengar gelak tawa yang riuh ketika melihat anak-anak polos itu bermain kejar-kejaran. Sore itu saya sedang berada di sebuah panti asuhan dekat rumah. Kebetulan saja, sedang ada acara perkumpulan di sana. Terus tak bosan saya amati mereka. Terlihat begitu ceria, begitu bahagia. Anak-anak yang aktif dan bersemangat. Cermin generasi muda yang begitu menjanjikan sebagai pemimpin di masa depan. Semoga……

Ada yang unik dari panti asuhan ini. Anak-anak yang diasuh di sini mayoritas masih punya orang tua yang komplit! Ya, mereka masih punya orang tua, masih punya ayah dan ibu, emak dan bapak, mama dan papa, mbokne dan pakne. Lalu bagaimana mereka bisa sampai di sini? Yah…., itulah cerita mirisnya. Mereka dibuang oleh orang tuanya. Sorry to say…, bagi saya mereka sudah dibuang oleh orang tuanya, meskipun setiap 3 bulan sekali mereka masih diperbolehkan menjenguk anak-anaknya.

Ada 2 kasus di sini yang bisa mengakibatkan kita punya pemikiran yang berbeda. Pertama, orang tuanya benar-benar tidak mampu (secara ekonomi) untuk mengurus anaknya, hanya punya satu anak, lalu dititipkan ke panti asuhan. Mungkin ini masih masuk akal dan bisa diterima oleh hati nurani kita. Bagaimana jika kasusnya adalah seperti yang kedua ini, menitipkan anaknya ke panti dengan alasan tidak mampu, tapi terus-menerus memproduksi anak? Saya melihat dengan mata kepala sendiri, sepasang laki-laki dan perempuan setengah baya sambil menggendong seorang bayi, menjenguk tiga anak perempuannya yang sudah dititipkan ke panti itu. Tiga orang!!! Fiuh…. yang begini inilah yang membuat saya tidak habis pikir. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, apakah tidak ada cara lain untuk memuaskan napsu binatang itu dengan logis? Bukan hanya semata-mata ingin memuncratkan cairan kepuasan itu? Apa esensi semua desah menjijikkan di tengah malam itu jika nantinya mereka juga hanya akan membuang anak-anak mereka? Buah napsu dan cinta mereka?

Ah… mungkin lebih beruntung anak-anak manis itu berada di panti. Mereka mendapat makanan sehat yang terjamin, rumah tinggal yang nyaman, dan tentu saja pendidikan yang memadai. Di sini, anak-anak manis itu disekolahkan oleh panti ke sekolah-sekolah sekitar panti sesuai dengan umur mereka masing-masing. Pertumbuhan mental mereka diawasi dengan sangat ketat oleh pengurus panti. Dengan alasan untuk menjaga perkembangan anak dan pengawasan, maka pihak panti membatasi waktu berkunjung orang tua mereka. Jangan sampai frekuensi bertemu yang tinggi dengan orang tua membuat mereka lebih menurut kata orang tua (yang mayoritas jelas kurang berpendidikan itu), dibandingkan dengan peraturan panti. Intinya orang tua memang sudah tidak memiliki hak prerogative terhadap anak-anaknya. Ya memang harus demikian adanya.

Saya sendiri masih merenung dan tidak tahu mana yang harus disalahkan. Orang tuanya kah yang tidak tahu cara menghentikan janin-janin yang terus menerus bermunculan? Atau pemerintahkah yang kurang turun ke bawah mensosialisasikan program KB? Atau balik ke manusianya lagi yang tidak mau diajak maju, memegang erat mitos banyak anak banyak rejeki?

Saya hanya bisa menatap penuh harap kepada anak-anak buangan itu. Berharap mereka menjadi sampah organic, sampah recycled, yang akhirnya bisa menjadi produk bagus berharga tinggi, dan yang paling penting tidak mengulang kesalahan orang tuanya.

resize-of-pic_0094.jpg resize-of-pic_0091.jpgresize-of-pic_0125.jpg


About this entry