Jugun Ianfu ,Perempuan Bangsa Dengan Luka Yang Tak Pernah Kering

By: Lembayung

 

Peristiwa Ceriyati beberapa saat yang lalu mengingatkan saya bahwa penganiayaan, pelecehan dan ketidak-adilan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di masa kini saja, masa di mana semua orang sudah menuju ke sifat individualis dengan sikap egosentris yang semakin tinggi. Ceriyati hanyalah sedikit potret dari sekian banyak peristiwa kelam yang dialami oleh kaum perempuan, tidak hanya di negara kita tetapi juga negara yang lain, tidak hanya masa kini, tetapi juga di masa lalu. Masa di mana perempuan hanyalah dianggap sebagai makhluk yang lemah, bodoh, dan tertindas. Dimana perempuan hanyalah dianggap sebagai konco wingking belaka, tak lebih.

 

Adalah di masa Jepang, yang masuk ke Indonesia dengan propaganda sebagai “Saudara Tua”, berjanji membantu negara kita lepas dari penjajahan Belanda, yang sudah mengungkung kita selama 350 tahun. Janji-janji yang diumbar Jepang begitu menarik rakyat kita, membawa harapan kita melayang setinggi langit, berharap segera menghirup aroma kebebasan. Aroma kemerdekaan. Namun ternyata apa yang kita dapat, anak-anak bangsa telah dirampas mimpi-mimpinya dengan menjadikan mereka romusha dan perempuan penghibur. Tidak ada harapan menghirup udara kebebasan, karena hanya sekedar bernafas untuk menyambung hidup pun tidak bisa. Anak bangsa tidak bisa bernafas, anak bangsa tersengal-sengal.

Para perempuan penghibur yang pada masa itu disebut sebagai jugun ianfu, bukanlah didapat dengan suka rela dan lego lilo. Para perempuan kebanggaan negara dipaksa dengan cara-cara kekerasan tipu,muslihat, ancaman, teror dan segala macam langkah taktik licik untuk bisa dikuasai mereka. Perempuan ini dimasukkan ke dalam sebuah lokasi khusus yang disebut ian jo, sebuah rumah bordil buatan Jepang.

 

Mardiyem, seorang perempuan bangsa kita sangat terampil sekali dalam menyanyi keroncong walau masih berusia 13 tahun. Mardiyem muda yang cantik membuat seorang Jepang tertarik dan mengajaknya untuk bermain sandiwara di Kalimantan Selatan. Karena dia sudah tidak punya orang tua lagi, Mardiyem muda meminta ijin kepada kakaknya, dan ijin itu pun didapatkan. Dengan angan membumbung tinggi berharap menjadi pemain sandiwara yang terkenal di seluruh tanah air, Mardiyem berangkat dengan penuh gairah dan kegembiraan. Mardiyem berangkat bersama beberapa perempuan-perempuan sebayanya yang lain, mereka dibagi dalam tiga kelompok. Setelah sampai di Telawang Kalimantan Selatan, kelompok pertama dipekerjakan di restoran ,kelompok kedua dipekerjakan sebagai pemain sandiwara, dan kelompok ketiga dimana Mardiyem berada malah dibawa ke suatu asrama Jepang dengan pagar bambu yang tinggi. Di tempat itu terdapat puluhan kamar yang saling berjajar, masing-masing kamar diberi nomor dan nama Jepang untuk penghuninya. Mardiyem berada di kamar nomor 11 dengan nama Momoye sebagai nama Jepangnya.

Mardiyem memasuki kamar ukuran dua meter persegi dengan perasaan galau dan linglung. Tak berselang lama, malah masuk seorang lali-laki yang memberinya karcis lalu memaksanya “bekerja” melayani libidonya, gairahnya yang memuncak, dan naluri kebinatangannya yang memporak-porandakan kesucian seorang perempuan bangsa. Hari itu Mardiyem terus menerus dipaksa untuk melayani para tentara Jepang yang haus akan kenikmatan jasmani. Bagian vital Mardiyem mengalami pendarahan yang sangat hebat, padahal dia belum mendapatkan haidnya yang pertama. Setiap hari bagaikan hidup dalam neraka yang tak berkesudahan, tidak ada yang dapat dilakukan. Mardiyem dikurung dalam ruangan itu dengan penjagaan yang sangat ketat. Karcis yang sudah dia kumpulkan sebanyak satu keranjang besar pun ternyata tidak pernah bisa ditukarkan uang seperti yang pernah dijanjikan untuk menenangkan para jugun ianfu ini. Jangankan uang, untuk makan pun dia hanya dijatah sehari sekali yang sering tidak sempat dimakan hanya karena terus menerus dipaksa “bekerja” melayani 10-20 orang setiap harinya. Setiap orang dari kalangan sipil dan militer Jepang datang dengan membawa karcis dan kaputjes (kondom) lalu memilih perempuan yang diinginkan. Namun demikian jarang yang mau pakai kaputjes karena dirasa mengganggu dalam berhubungan, kurang nikmat begitu kabarnya.

Suatu ketika Mardiyem hamil 5 bulan dan kandungannya digugurkan oleh petugas rumah sakit tanpa bius, perawat menekan perutnya keras-keras hingga janin itu meloncat keluar, menggelepar dan mati. Mardiyem hanya bisa meraung-raung kesakitan yang tak kunjung henti. Sejak saat itu rahim Mardiyem rusak, dan tak pernah bisa punya keturunan lagi. Sungguh sangat biadab.

 

Jugun ianfu tidak hanya Mardiyem seorang, adalah Suharti seorang jugun ianfu lain asal Yogyakarta dipaksa menjadi jugun ianfu. Pak lurah di desanya mendatangi rumahnya dan berkata kepada orang tua Suharti jika anaknya akan disekolahkan di Balikpapan dan setelah lulus akan mendapat kerja kantoran. Tapi apa yang terjadi, nasibnya tak jauh beda dengan Mardiyem. Tidak jelas apakah para aparat dipaksa untuk mencarikan perempuan-perempuan muda, atau malah ikut bersekongkol dengan mereka. Yang jelas, aparat kita jaman dulu ikut andil juga dalam bursa jugun ianfu di Indonesia.

 

Masa kelam bagi perempuan-perempuan kita ini tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup,membekas dalam luka dan terpuruk dalam lara. Luka itu kembali menganga ketika bangsa Jepang sendiri tidak mau mengakui adanya perbudakan seks dan praktek jugun ianfu. Bahkan PM Jepang Shinzo Abe pun secara tegas mengatakan bahwa “Tidak ada fakta yang membuktikan ada paksaan seperti pada awalnya dikesankan”. Sungguh pernyataan yang sangat menyakiti hati para jugun ianfu tidak hanya yang berada di Indonesia, tetapi juga Korea , Cina, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Vietnam, India, Eurasia, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik. Jumlah perkiraan jugun ianfu selama perang 200.000 dengan 1.156 jugun ianfu Indonesia yang terdaftar di LBH Yogyakarta.

Sudah selayaknya jika Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta membantah pernyataan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bahwa tak ada jugun ianfu di negara jajahan Jepang. Meutia mengatakan bahwa jugun ianfu adalah kejahatan perang, perbudakan seks dan merupakan suatu fakta yang sulit dihapus. Namun sayangnya Meutia tidak menjelaskan sikap kementeriannya terhadap pemerintah Jepang dan malah mempersilakan para korban (eks jugun ianfu) dan para aktivis untuk berunjuk rasa memprotes pernyataan PM Jepang tersebut. Tidak tahu mengapa begitu, pastilah itu bagian dari politik tingkat tinggi. Mungkin karena besarnya bantuan Jepang kepada pemerintah Indonesia, mungkin juga bukan. Banyak sekali faktornya,dan saya ndak dhong yang mana yang berhubungan intim dengan issue jugun ianfu.

 

Dikecam sejumlah negara karena pernyataan PM Jepang yang membantah adanya perempuan yang dipaksa menjadi jugun ianfu selama  Perang Dunia II, pemerintah Jepang langsung bertindak melalui Sekretaris Kepala Kabinet Jepang yang menegaskanh bahwa pemerintah Jepang tetap akan mempertahankan Kono Statement 1993 yang mengakui dan meminta maaf akan adanya jugun ianfu. Meskipun PM tetap ngotot Jepang tidak akan meminta maaf kembali atas kasus jugun ianfu tersebut.

 

Terlepas permasalahan politis antara Indonesia-Jepang, kita perlu meluangkan waktu untuk menilik kehidupan para eks jugun ianfu pasca perang. Setiap jugun ianfu sudah tak bisa lagi mempunyai kehidupan normal, kehidupan seperti layaknya anak bangsa yang lain. Meskipun sebagian kecil dari mereka memiliki kesempatan untuk berkeluarga, namun hanya sedikit sekali yang mempunyai anak karena organ reproduksi mereka telah rusak akibat perkosaan bertahun-tahun. Banyak pula di antaranya yang meninggal dunia karena penyakit yang diderita, kebutaan, terkena kanker rahim, penyakit kelamin, bahkan banyak pula yang mengalami gangguan jiwa. Tidak berhenti sampai di situ saja,para eks jugun ianfu memikul beban psikologis yang sangat berat karena masyarakat memberikan hukuman sosial kepada mereka atas dosa sosial yang bukan kesalahan mereka. Dengan menyandang stigma negatif setiap harilah mereka hidup, tanpa ada bantuan dari pemerintah untuk memperjuangkan nasib dan memulihkan harkat martabat para eks jugun ianfu yang satu demi satu pergi menjemput ajal.

 

Seperti yang dialami eks jugun ianfu asal Kauman Yogyakarta Mardiyem, bahwa usaha catering miliknya terpaksa gulung tikar begitu tahu pemiliknya adalah eks jugun ianfu. “Mereka merasa jijik menyantap masakan dari saya, hanya karena saya adalah eks jugun ianfu”  kata Mardiyem yang terus menerus berharap suatu saat dia masih bisa merasakan keadilan di negaranya yang tercinta ini.

 

Untuk konteks Indonesia advokasi di dalam negeri memang bergerak dengan sangat lambat, minimnya peran aktif pemerintah Indonesia dalam penanganan jugun ianfu Indonesia menyebabkan minimnya dukungan moril dan fasilitas untuk perjuangan jugun ianfu Indonesia itu sendiri. Pemerintah tidak berhak berdiam diri dan membiarkan kejahatan seksual menimpa perempuan bangsanya. Berbagai LSM yang tergabung dalam Jaringan Advokasi Jugun Ianfu Indonesia kemudian lahir untuk mengakomodasi perjuangan para jugun ianfu ini: LBH Jakarta, LBH Apik Jakarta, LBH Yogyakarta, LBH Independen Yogyakarta, Komnas HAM, Koalisi Perempuan Indonesia, Jaringan Nasional Perempuan Mahardika dan beberapa individu yang sangat menginginkan adanya perubahan untuk para eks jugun ianfu tersebut.

 

Tidak ada kata terlambat, lebih baik jika sekarang pemerintah bekerja sama dengan Jaringan Advokasi Jugun Ianfu Indonesia untuk mengkampanyekan pemulihan martabat dan nilai kemanusiaan jugun ianfu yang dilakukan secara terpadu dengan berbagai pihak dan organisasi lain yang juga peduli akan issue ini agar tercapai pemahaman yang positif untuk melakukan kerja jaringan secara maksimal guna mencapai hasil yang memadai dalam upaya advokasi dalam negeri maupun dunia internasional.

 

Matur nuwun, God Bless You.., God Bless eks Jugun Ianfu wherever you are……


Diambil dan disarikan dari berbagai sumber:

http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&aid=4315&lang=

http://www.ranesi.nl/tema/suara_perempuan070108/jugun_ianfu_mardiyem_070328

http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/03/27/brk,20070327-96438,id.html

http://www.sekitarkita.com/more.php?id=616_0_1_0_M

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/03/ln/3358736.htm

http://www.antara.co.id/arc/2007/4/18/ahli-sejarah-beberkan-dokumen-buktikan-praktek-jugun-ianfu/

http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=116603

http://riaupos.com/baru/content/view/1260/73/

 

 


About this entry