Hey Gadis…

By: Night


miss1.jpg

Sesaat tatapanku mengarah pada gadis di hadapanku. Mataku melihat lekat, memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menelanjanginya dengan pikiranku. Seorang gadis dengan rambut terurai panjang. Gaun biru yang menutupi dari bahu hingga paha bagian atas, tampak melekat memperlihatkan lekuk tubuhnya, terkesan seksi namun elegan. Gadis yang visualisasinya mungkin menjadi impian banyak pria, setidaknya menurutku, wajahnya memberi kesan lembut dan manis, magnet penarik pria.

Kami tertegun saling menatap, diam membisu, mungkin saling menerka isi
pikiran masing-masing. Saya segera menghampirinya, mencoba untuk memecahkan keheningan diantara kami, padahal suasana saat itu penuh dengan suara hingar bingar. “…kamu ngapain disini?”, saya mencoba memecahkan kebisuan. “Kamu sendiri, kenapa juga disini?”, jawabnya, seolah ingin membalas pertanyaanku dengan pertanyaan.

“Kisah lama-ku, kamu kok ga berubah ya? Masih sama seperti dulu saja tampang dan gayamu.”, saya mencoba bercanda, terasa kaku dan hambar. Dia tertawa pelan, seketika tersenyum tipis dan membalasku dengan godaan, “Kisah cinta masa lalu….?”, dia tertawa tipis dan kemudian melanjutkan kata-katanya, “Aku hampir ngga mengenalimu, wajahmu berubah sekali. Kupikir kita ngga bakalan ketemu lagi…., kamu kenapa ngga bilang mau kesini….?”. Saya tertawa mendengar cecarannya, dalam hati ada rasa senang bertemu dengannya dan heran dengan pernyataannya seolah saya harus lapor untuk ke kota ini, mungkin itu hanya kalimat basa basi yang spontan. Padahal saya juga tidak menduga dia di kota ini.

Setelah beberapa saat ngobrol, seketika saya meninggalkannya, berdalil ada keperluan lain padahal karena merasa canggung, entah karena kisah masa lalu kami atau karena hal lain. Setelahnya, beberapa saat kemudian, dari kejauhan, kami saling memandang, tatapan dalam makna yang tidak kupahami. Sesekali saya meliriknya dan tampak dia juga melirik kearahku. Mata kami saling bertaut, dalam hitungan sepersekian detik kami langsung kembali mengalihkan pandangan kearah lain, seolah saling tidak peduli. Terus terulang berkali-kali. Hatiku seolah protes kepada diriku dan ingin menemuinya, membicarakan banyak hal, tampak wajahnya seolah gusar, mungkinkah pikiran kami sebenarnya sama. Walau masing-masing saling mengenal tapi seolah tidak kenal dan ada jarak.

Dia seketika seperti ingin mendatangi, mungkin hanya perasaanku saja. Dia berjalan kearahku, wajahnya menunduk. Tatapanku melekat ke wajahnya, tapi sepertinya dia menghindari saling memandang dan menyadari tatapanku. Dalam diamku menunggu sambil mengalihkan pandanganku, tatapanku kembali kearahnya, tampaknya dia sibuk dengan ponselnya. Saat itu dugaanku dia pura-pura sibuk saja dengan ponselnya, kemudian dia berjalan menjauh lagi, terburu-buru seperti diburu waktu. Tidak lama setelahnya ponselku berbunyi, pesan singkat dari dia, namanya masih tersimpan di phonebook ponselku selama bertahun-tahun. Keningku berkerut bahkan sebelum membaca isi pesannya, hanya melihat nama dari pesan masuk, menatap ke arahnya di kejauhan dan tampak dia memberi bahasa isyarat untuk meneleponnya.

Malam semakin larut, pada malam yang gelap dan hitam benakku masih terusik, setelah pertemuan tidak terduga tersebut. Kukeluarkan ponselku berniat meneleponnya, niat ini terurungkan, terlalu malam untuk mengganggunya dengan pembicaraan tanpa tema, hanya sebuah pesan singkat terkirim dariku. Sesaat setelah bertahun-tahun, setelah lama tidak bertemu, walaupun kami sebenarnya masih berhubungan meskipun sangat jarang. Gadis kecil manis yang kukenal sejak masa kanak-kanakku kini sudah menjadi gadis dewasa yang anggun. Gadis yang dulunya lebih tinggi dariku kini setinggi bahuku. Gadis yang sama kini terlihat berbeda.

Kami tidak pernah tahu apa yang ada didalam benak masing-masing. Mungkin jiwa kanak-kanakku masih melekat, rasa canggung candaan masa kecil dimana orang-orang menjodohkan kami sepertinya mempengaruhiku. Mungkin juga rasa ini karena melihat gadis kecil ini telah tumbuh menjadi sosok yang membuatku terkesima. Pertemuan singkat, sayangnya tidak memberi kesan mendalam. Sebuah pesan balasan darinya masuk ke ponselku, jawaban yang sebenarnya tidak kutanyakan kepadanya.

Rasa ini sama, rasa yang dimiliki perasaan ini, pesan singkat darinya memberi segurat senyum di bibir ini. Pikiran dan rasa melayang ke kembali ke kisah masa lalu, diantara kami. Setidaknya sudah lebih dari sepuluh tahun tidak ketemu dan masih mengingat. Ternyata sama-sama malu, takut dikira bermain cinta-cintaan….


About this entry