Nasehat Nenek

By: Lembayung

Suatu sore saya makan di sebuah warung sederhana dekat rumah. Menunya adalah nasi oseng-oseng kikil dan telur dadar, menu makan ala rumahan, ditemani dengan segelas teh panas tawar. Yang melayani adalah seorang nenek dengan usia kira-kira awal 80-an tahun. Masih terlihat sigap dan ramah. Saya berpikir kenapa nenek dengan usia setua itu masih menjaga warung tanpa ada yang membantu. Sempat terlintas pula pikiran negatif tentang keberadaan dan rasa berbakti anak-anaknya, sedikit mengutuk dan tidak terima. Tiba-tiba dari balik tirai dapur warung itu muncul seorang pemuda tanggung (kira-kira usia ABG lah) sambil membawa minuman pesanan saya. Ah… ternyata masih ada juga yang membantu nenek itu. Sepertinya saya memang perlu mengerem laju imajinasi dan penilai sepihak dari alam pikiran saya. Terlalu banyak pikiran-pikiran negatif yang diproduksi dari sana.

Saya mulai makan sambil membaca koran yang saya ambil dari ujung meja warung itu. Koran kemarin sih, tapi dari pada terlihat seperti makan sambil melamun nggak penting, atau makan sambil berimajinasi tidak senonoh, atau makan sambil menjustifikasi perilaku orang seenak udel kita sendiri yang semuanya berpangkal pada deviasi pola pikir saya, ya lebih baik terlihat seperti benar-benar full aktivitas.

Sempat saya melirik nenek dan cucunya (saya sempat mendengar pemuda culun itu memanggil nenek itu “Simbah…”) ketika nenek itu menanyakan air di dapur apakah sudah mendidih. Si cucu hanya mengangguk kecil sambil melipat tissue makan. Semula saya tidak peduli dan masa bodoh dengan segala percakapan tetek bengek warung makan murahan itu. Tetapi kemudian saya seperti tersedot perhatian saya ketika jelas mendengar percakapan mereka kemudian:

Simbah : “Le, mbakyu-mu sebenarnya gimana to sama Giyarto? Apa sudah mantep gitu?”

Cucu : “Lha kenapa tho, Mbah? Kan memang mereka sudah saling cinta?”

Simbah : “ Aku kok kurang mantep sama pilihannya mbakyumu yo,Le?”

Cucu : “ Lho memang ada apa,Mbah? Ada masalah opo to?”

Simbah : “ Giyarto itu terlalu ganteng,Le. Tidak sepadan dengan mbakyumu yang gendut dan tidak terlalu pintar juga otaknya itu. Aku kasih tau ya Le, perempuan itu sebaiknya kalau cari suami jangan yang terlalu ganteng. Ora apik, nggak bagus. Nanti setiap hari hanya akan makan hati terus. Suami banyak dikuntiti perempuan-perempuan yang tidak peduli sang arjuna sudah berbuntut apa belum. Hidup kok setiap hari tidak tenang, tidak tentram. Ketakutan terus, jangan-jangan suatu saat nanti suami akan kepencut perempuan cantik,seksi nan bahenol dan lebih pintar memuaskannya. Pergi, hilang, dan mulailah kesedihan sepanjang masa.”

Si Cucu diam saja, lalu simbah itu berkata lagi,

Simbah : “Lagipula Le, Si Giyarto itu juga anak orang kaya, juragan tahu terbesar di desa kita. Tidak baik orang yang kere seperti kita kok menikah dengan orang kaya. Nah, yang ini akan membuat kita sakit hati sepanjang masa. Merasa mereka yang memberi uang sehingga bisa semena-mena memperlakukan istri. Asal ada uang, sudah cukup membeli kepatuhan seumur hidup. Belum lagi dengan bergelimangan uang, maka suami bisa menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang sangat menyakitkan hati perempuan. Jajan dengan lonte desa sebelah. Mbakyumu bisa sakit hati sepanjang masa…”

Cucu : “ Lha terus seharusnya gimana,Mbah? Cari suami itu? Cari yang mukanya jelek dan mlarat seperti kita? Supaya langgeng dan bahagia sepanjang masa?”

Simbah: “ Wah…, salah itu Le! Ya nggak gitu. Tidak sayang masa depan kalau gitu itu. Sudah mlarat, keturunannya jelek lagi. Ha…ha…ha… Ngawur kamu!! Ya kalau cari suami itu, mbakyumu dikasih tahu ya, nggak usah lah yang terlalu ganteng. Yang biasa saja, tidak ganteng ya tidak jelek. Biasa saja. Aman itu nanti, tidak pusing terus mikir suami kita digandeng siapa. Juga nggak usah terlalu kaya. Yang biasa saja, cukupan, yang penting bisa menghidupi istri dan anak hidup wajar. Wajar saja Le, wajar….., apalagi mbakyumu kan juga sudah bekerja di pabrik to. Kalau tidak banyak sisa-sisa uang, maka nggak akan banyak menyelewengkan penggunaan uang untuk hal-hal yang menyakiti hati.”

Cucu : “ Jadi itu apa sudah bisa menjamin mbakyu bahagia,Mbah?”

Simbah: “ Ora, jelas tidak juga. Tidak ada yang bisa menjaminkan kebahagiaan to,Le. Wong pak lurah saja tidak bisa menjamin kebahagiaan warganya kok. Apalagi ini soal pasangan hidup, orang yang akan terus bersama kita sampai mati. Lha yang bisa kita lakukan ya hanya berusaha dan berusaha. Itu saja.”

Tidak terasa piring saya sudah licin tandas. Saya kenyang sekali, perut dan pikiran. Saya sendiri tidak tahu apakah nasehat nenek itu benar atau tidak, relevan atau tidak dengan jaman sekarang dimana orang berlomba-lomba untuk menilai semuanya dari segi materi. Materi sebagai sumber kebahagiaan dan cinta. Padahal itu semua jelas jelmaan dari setan-setan hedonis neraka, berhala jahanam. Yang dengan senang hati mempersembahkan pemuja-pemuja baru bagi Balthazar dan Lucifer…..


About this entry