Kuning dan Hitam

By: Night

Kuning dan hitam, keduanya tidak memiliki nama. Nama yang kini kuberikan untuk kedua pemalas yang kerjanya hanya tidur dan makan. Keasikan keduanya berada di kaki siapa saja yang berada di dekatnya, mengeluskan badannya dengan manja, kadang-kadang terlihat bergulat bersama tanpa peduli sekitarnya.

Kuning dan hitam, mereka memang bukan anggora, hanyalah kucing biasa. Kucing lokal yang silsilah garis keturunannya jangankan diketahui, bapaknya siapa juga tidak ada yang tahu. Keduanya dipelihara sejak baru lahir bersama-sama, niat awal di pelihara untuk mengusir tikus, sayangnya mereka terlalu malas untuk mengejar tikus, mereka lebih suka bermain berdua.

Kuning dan hitam, jelas bukan saya yang memeliharanya. Mereka dipelihara seorang Ibu yang sekarang lebih kusukai menyebutnya mantan calon mertua. Keduanya, sangat setia dengan Ibu yang memeliharanya, setiap pagi kata Ibu tersebut tepat jam enam sudah akan mencakar pintu membangunkannya. Kebiasaan yang sama. Mereka selalu mengekor Ibu kemanapun pergi, kecuali jika Ibu keluar rumah biasanya hitam tidak ikut, susah dipahami, kenapa hanya jika keluar rumah hitam tidak mengikuti. Pernah ada kejadian lucu juga, ketika si Ibu pindah kamar lain, kedua kucing tidak menyadari dan masih menggaruk pintu kamar yang sama, tapi setelah beberapa hari keduanya sadar dan pindah menggaruk pintu kamar baru. Ya, mereka mendapat pintu baru untuk digaruk setiap pagi.

Kuning dan hitam, tampaknya hanya kucing pemalas dan pengecut. Jika melihat tikus lewat, mereka hanya melihat saja, menatap tanpa ada naluri membunuh. Kadang tikus yang lewat dihadapan mereka memang dikejar namun kemudian dimain-mainkan dan dibiarkan pergi. Mereka tidak pernah bermain jauh dari rumah, jika melihat kucing lain di sekitar rumah, mereka tidak menyerang, terkadang malah lari ketakutan. Memang pengecut, tapi setia dan selalu menemani Ibu. Entahlah jika melihat betina, apakah birahi kejantanan keduanya akan sama. Bedanya hitam merupakan anak rumahan dan kuning suka kelayapan.

Suatu ketika, kuning hilang, pergi entah kemana. Kuning memang sering hilang, tapi tidak pernah lama, apalagi sampai seminggu. Seminggu, hitam sendirian, makanan yang diberikan selalu tersisa jika kuning tidak ada. Memang, kuning sering hilang sehari maupun dua hari dan akan pulang lagi, sedang hitam lebih suka hanya dirumah. Dasar keduanya memang aneh. Setelah seminggu kuning kembali, entah mengembara dimana namun kemudian sehari kemudian pergi dan tidak pernah kembali lagi. Mungkin menemukan majikan baru, mungkin ingin berpetualang di alam liar, atau mungkin digigit anjing liar, mungkin malah tertabrak kendaraan, hanya Tuhan yang tahu.

Hitam berubah, kebiasaannya masih sama menggaruk pintu kamar setiap jam enam pagi. Masih suka bermanja di kaki orang. Tapi tampak kurusan, tidak gemuk montok seperti dulu. Makanan selalu tersisa walaupun diberikan sesuai porsinya. Mungkinkah dia menunggu kuning, berbagi makanan sepiring bersama seperti dulu? Kok menebak pikiran kucing, mana ngerti sih jalan pikiran mahkluk sembilan nyawa ini. Waktu berlalu, sepertinya hitam sudah tidak mengingat kuning, dia kini tampak selalu menghabiskan makanannya. Tapi terlihat ada yang berubah, dia lebih sering sembunyi sendirian di pojok sofa, mungkinkah tidak ingin diganggu? Kesepiankah dia? Berharap ada lagi kucing yang bergulat dengannya? Berharap ada teman bermain? Atau terus memikirkan kuning? Mana ngerti pikiran kucing, saya hanya memperhatikannya dan mencoba memahami. Saya juga masih suka menangkapnya, menaruhnya di pangku dan dia membiarkan saja.

Beberapa bulan berlalu, hitam tampak lebih suka menyendiri, mungkin hanya dugaanku kucing tersebut tidak selincah dulu, tapi dasarnya dia memang pemalas. Satu hari dia kelihatan lemas, memuntahkan makanannya. Ibu sepertinya khawatir, tapi kucing itu bersembunyi menyendiri di dapur, pada belakang kulkas yang sulit dijangkau dan menolak dipaksa keluar. Saya hanya mendengar dari Ibu kejadian tersebut saat malamnya. Hitam telah pergi, setelah beberapa saat dalam pengasingan diri, menyiapkan diri menuju ajal. Saya hanya melihat mata merah sang Ibu, binatang yang selalu setia bersamanya, keduanya telah meninggalkannya.

Ya, itu hanyalah kucing, bukan saudara, bukan keluarga, bukan siapa-siapa, namun kesetiaannya jelas memiliki tempat di hati pemiliknya. Kesetiaan yang tidak menuntut syarat. Pikiran kucing, memang saya tahu apa, hanya menduga saja bahwa hitam kehilangan dan kesepian setelah ditinggal kuning. Jika saja kucing seperti itu, bagaimana dengan manusia yang katanya punya hati…. Ah…, mana paham sih saya soal hati ataupun yang bukan hati…


About this entry