Jus Pepaya-Tomat-Jeruk Nipis

by: Lembayung

 

Awalnya jus jeruk ini terasa sungguh masam. Mungkin karena sari asli tanpa tambahan pemanis buatan atau pemanis sungguhan. Sesuai pesanan. Ketika asyik mengaduk-aduk isi gelas dengan sedotan yang ujungnya dibuat melingkar-lingkar (membuat pusing aliran airnya saja), seorang perempuan terlihat memasuki warung jus sehat ini. T-shirt warna khaki, celana jeans, sneakers dan sebuah postman bag digantungkan melintang di pundak kanannya. Terdengar suara lumayan berat untuk ukuran standar perempuan, “Jus pepaya campur tomat campur jeruk nipis,Mbak…” Komposisi pesanan yang saya rasakan janggal. Kembali saya tekuni gelas jus saya, saya aduk-aduk lagi, supaya bercampur lagi air dan sari buahnya. Sesekali pikiran saya melayang membayangkan perjalanan sang buah jeruk sehingga bisa sampai dan disajikan di depan saya. Pikiran yang tiba-tiba saja mampir kok.

 

Sesekali saya pandang juga perempuan di seberang saya yang seperti terlihat gelisah, tak tahu kenapa. Ketika pesanannya jus pepaya-tomat-jeruk nipis itu datang, diaduknya sebentar lalu segera diseruputnya dengan malas-malasan. Kurang tahu juga saya apakah malas-malasan itu karena rasanya yang kurang enak atau karena sebab lain. Setelah satu seruputan, dia mengeluarkan sebuah kotak rokok menthol, diambilnya sebatang lalu disulutnya. Segera asap nikotin mengepul dari mulutnya yang plain tanpa lipstick. Wah ini, masuk ke warung jus sehat, pesan minuman sehat kok dipartnerkannya dengan rokok. Agak lucu dan aneh memang…

 

Sekali lagi terlihat gelisah, klesikan, seperti ada yang sangat mengganggu pikirannya. Di hisapan kedua, perempuan berambut ekor kuda itu mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Aha… sepertinya saya kenal bentuk, gambar, dan warna cover buku itu. Bukunya Romo Mangun yang berjudul Rumah Bambu. Buku bagus itu. Saya jadi semakin tertarik mengamati perempuan aneh itu. Matanya lalu menekur pada barisan teks buku kumpulan cerpen itu. Aneh, saya sama sekali tidak menangkap kegelisahan yang tadi begitu kuat terpancar… Terlihat tenang dan terhanyut… 

 

Tiba-tiba seperti tersentak oleh sesuatu, kembalilah dia ke alam nyata, kegelisahan itu kembali lagi. Berkali-kali dia membetulkan letak duduknya, memainkan sedotan, menghisap rokoknya dalam-dalam sambil mata menerawang jauh. Lamaaa… sekali saya coba menangkap apa yang terjadi pada dirinya…., apa yang merisaukannya, apa yang membuatnya berkali-kali seperti terombang-ambing di antara dua pulau, kegelisahan dan konsentrasi. Sepertinya saya kenal sekali dengan tatapan sejenis miliknya. Tatapan nanar yang penuh kehampaan dan kekecewaan. Biasanya saya mengenalnya membalut jiwa yang sedang patah. Tapi kali ini sepertinya bukan. Bukan kasus yang hanya sekedar patah hati biasa. Terlihat lebih dalam dan kelam. Gelap sekali….

 

Berusaha mencari dan mencari jawaban tetapi nihil melompong yang saya dapat. Ah…. memang saya yang terlalu usil suka mengusik dan sok menilai pikiran orang. Tidak, saya tidak merasa kasihan atau pun merasa prihatin hanya dengan melihatnya dari kejauhan. Perasaan saya biasa saja, merasa bahwa semua itu adalah proses dalam fase hidupnya. Bisa jadi saya juga akan mengalaminya nanti. Berada pada posisinya yang duduk saja serba tak nyaman, mengatakan selamat datang pada kehampaan, dan dipeluk erat oleh kekecewaan. Yah, proses. Itu semua hanyalah suatu proses dalam fase hidup kita.

 

Suara teleponnya berdering, terdengar cakap sementara waktu, lalu ada perubahan mimik pada wajahnya. Wajah kelegaan memburat di sana, meski kelegaan ini aneh jenisnya. Bukan pula ekspresi kelegaan seperti yang sering saya jumpai. Ah… tapi sudahlah, setidaknya perempuan itu sudah lebih baik sekarang, itu menurut persepsi saya.  Saya kembali menyeruput jus jeruk yang tinggal separo. Entah karena khayalan saya sendiri atau memang demikian adanya,jus jeruk ini jadi terasa manis dan segar sekali.

 

Sekarang ia tak membutuhkan lagi bukti. Lega hatinya, namun lega dalam arti hampa. Seperti anak ingusan yang ditarik kasar oleh pelacur tua yang jengkel melihatnya ragu-ragu, lalu digemboskan segala ingin-tahunya yang sudah lama menggembung di bawah pusar, dan kini kosong menghadapi kenyataan yang mengecewakan. Tetapi lebih baik mengecewakan daripada tertimbun terus tanpa kepastian. (YB.Mangunwijaya, Rumah Bambu,2000).

 

 


About this entry