<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Malam Ungu</title>
	<atom:link href="http://malamungu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://malamungu.wordpress.com</link>
	<description>Night and Lembayung on the move.....</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Feb 2011 02:00:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='malamungu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Malam Ungu</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://malamungu.wordpress.com/osd.xml" title="Malam Ungu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://malamungu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dugem Vs Tarik Tambang</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/14/dugem-vs-tarik-tambang/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/14/dugem-vs-tarik-tambang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 05:32:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/2009/08/14/dugem-vs-tarik-tambang/</guid>
		<description><![CDATA[Dugem Vs Tarik Tambang Lembayung – SOLO the spirit of java Sambil mengendarai motor, saya lirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanan saya. Hm&#8230; sudah jam 23:05. Lumayan larut untuk mencari warung makan. Pilihan terakhir yang bisa saya andalkan jelas adalah angkringan Lik Gembus yang pasti jam segini sedang ramai-ramainya. Benar saja, dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=195&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dugem Vs Tarik Tambang<br />
Lembayung – SOLO the spirit of java</p>
<p>	Sambil mengendarai motor, saya lirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanan saya. Hm&#8230; sudah jam 23:05.  Lumayan larut untuk mencari warung makan. Pilihan terakhir yang bisa saya andalkan jelas adalah angkringan Lik Gembus yang pasti jam segini sedang ramai-ramainya. Benar saja, dari kejauhan sudah saya lihat bergundul-gundul kepala bergerak-gerak maju mundur, tidak serentak sih, tapi hampir semua kepala itu bergerak. Ciri-ciri kalau di angkringan itu sedang ada obrolan yang gayeng sehingga semua bisa tertawa terbahak-bahak berbarengan.</p>
<p>	Perlahan saya parkir motor tepat di samping angkringan itu. Celingak-celinguk mencari tempat duduk yang kosong.<br />
”Lho, Mbak Cenil, sendirian?” sapa Lik Gembus hangat seperti biasa.</p>
<p>”Lha ya iya tho Lik, sendirian, memangnya saya mau ngajak siapa? Wong masih joker gini lho&#8230;. Jomblo Kerennn!! Hahaha&#8230;” jawab saya sambil menjejalkan pantat tepat di tengah-tengah dua orang bapak-bapak paruh-baya yang menggerutu melihat kelakuan saya. </p>
<p>”Mbak Cenil ini kaya pantatnya kecil aja lho&#8230;. sempit ini!!!” protes Pak Kliwon, yang duduk di sebelah kiri saya. Saya cuma nyengir lebar sambil membenturkan bahu kiri saya tepat di bahu kanan Pak Kliwon. </p>
<p>	”Saking pundi tho Mbak, kok jam segini baru pulang?” tanya Lik Gembus sambil membuatkan teh tawar panas pesanan saya. Saya tersenyum memikirkan Lik Gembus mengatakan ”pulang”&#8230; padahal saya belum pulang ke kost-an&#8230; Jelas Lik Gembus beranggapan bahwa angkringannya ini adalah rumah kost saya, meski saya belum pernah menunggui Lik Gembus sampai menutup angkringnya.  Saya kok merasa terharu, dia beranggapan demikian.</p>
<p>”Saya habis dari club, Lik. Ada teman saya ulang tahun.” jawab saya sambil mengambil sebungkus nasi prithilan bandeng (karena memang ikan bandengnya lebih kecil daripada kelingking bayi umur 1 bulan). Baru sadar ternyata perut saya terasa perih karena sedari sore tadi hanya terisi sepiring kecil kacang bawang, satu biji croissant, dan segelas kecil Gin Tonic. </p>
<p>”Club itu kalau dulu sebutannya diskotik,Lik. Sekarang disebutnya kelap. Tulisannya C L U B ” imbuh saya setelah melihat reaksinya yang menaikkan dua buah alisnya. ”Teman saya ulang tahun, jadi saya ditraktir ke sana. Sebenarnya acaranya belum selesai sih  tapi saya pamit duluan. Pusing kepala saya dengar musik jedak-jeduk-jedak-jeduk, dan lampu warna-warni berputar-putar di seluruh ruangan. Lagipula saya wong ndeso, kalau belum ketemu nasi kok rasanya belum makan. Hahaha&#8230;.”</p>
<p>”Lha jebul ada acara ulang tahunan to, makanya ndak bisa datang rapat karang taruna nggih?” tanya Lik Gembus tanpa bermaksud menyindir saya. Nadanya memang murni hanya sekedar bertanya.</p>
<p>Asem ik, saya kok merasa tertampar dengan pertanyaan tanpa maksud terselubung itu. Saya sebenarnya tidak lupa kalau sore ini jam 19:00 ada rapat karang taruna untuk membahas tentang acara malam tirakatan memperingati hari kemerdekaan. Tapi jelas, tanpa berpikir dua kali saya memilih ke pesta ultah teman saya, meski pada akhirnya saya malah tak bisa menikmatinya. Maunya jadi anak gaul, eeehh&#8230;. apa daya, sekali ndeso tetap ndeso.</p>
<p>Saya berpura-pura menikmati nasi prithilan bandeng itu, karena tak tahu harus merespon bagaimana pertanyaan Lik Gembus tadi.  Sambil sesekali mata saya melirik Lik Gembus yang sedang melayani pembeli yang lain. Tiba-tiba saya melihat ada yang aneh dengan gerak-gerik Lik Gembus. Seperti tidak biasanya. Berulang kali saya lihat Lik Gembus memegang pinggangnya sebelah kanan sambil nyengir seperti menahan sakit.</p>
<p>”Lho, pinggang sampeyan kenapa,Lik?” tanya saya sambil terus meneliti gerak-geriknya. </p>
<p>”Lha ya itu Mbak, panjenengan tahu dukun urut yang cengpleng ndak? Kemaren lusa waktu saya mengangkat ember air kok sepertinya jadi salah urat. Sudah saya bawa ke dukun urut kampung sebelah itu tapi kok ya masih sakit, belum fit seratus prosen jhe&#8230; gimana ya ini?” jawabnya sambil menyingkapkan kaos biru dongker yang biru-nya (atau dongker-nya?) sudah memudar itu. Terlihat lilitan setagen warna hijau kluwuk.  Asumsi saya pasti pinjam kepunyaan istrinya. Spontan saya tertawa ngakak melihat Lik Gembus memakai setagen sambil memutarkan tubuhnya bak peragawan. </p>
<p>Sekarang gantian Lik Gembus yang cemberut yang ekpresi wajahnya berubah-ubah dari mangkel – memelas – mangkel &#8211; memelas&#8230;. seperti menyumpahi saya kalau saja saya juga sakit pinggang seperti yang sekarang dia rasakan ini. </p>
<p>”Puuunnn&#8230;. jan panjenengan  itu sama saja kayak yang lainnya ini lho Mbak Cenil&#8230; Dari tadi semua pada nggodain saya gara-gara saya pakai setagen seperti ini. Katanya gara-gara setagennya saya pinjam, istri saya malah klekaran tiduran di kamar terus karena nggak bisa pakai jarik. Harusnya saya nggak jualan tapi nemanin istri saya, gitu kata mereka ini. Memangnya kalau nemani istri saya ya mau ngapain Mbak, lha wong pinggang ini nggak bisa diajak hot  gitu lho&#8230;.” protes Lik Gembus dengan mulut mewek menahan sebal.</p>
<p>Sekali lagi saya tidak bisa menahan ketawa saya, apalagi ketika saya tahu bahwa bahan obrolan yang gayeng ketika saya lihat dari atas sepeda motor saya tadi adalah soal setagen Lik Gembus.</p>
<p>“Saya nggak tahu tukang urut yang bagus,Lik. Wong  saya tidak pernah pijit-urut kok. Takut kecanduan. Lho, memangnya ada apa tho Lik, kok buru-buru pengen cepat sembuh? Sudah kebelet anu ya&#8230;.” tanya saya cekikikan tanpa menyelesaikan kalimat saya. Cekikikan saya langsung dibarengi dengan cekakakan Pak Kliwon dan beberapa pembeli angkringan itu. ”Iyo itu Mbak Ceniiillll&#8230;., sudah nggak tahannnnn&#8230; arrrgghhh&#8230;.” Pak Kliwon menambahkan sambil tertawa lebih keras lagi. Bahunya naik-turun dengan cepat, kepalanya maju-mundur dengan gerakan ritmis.<br />
”Hush&#8230;., kalian semua itu seneng yak kalo saya menderita. Wis jan tenan! (lalu matanya melihat ke saya) Anu Mbak, bukan begitu. Saya mau cepat sembuh karena minggu depan itu kan ada pertandingan tarik tambang dalam rangka tujuh-belasan. Saya setiap tahun kan pasti jadi tim inti, Mbak. Lha kalau sakit begini apa ya nanti saya bisa main?” jawab Lik Gembus sambil menatap saya dengan memelas.</p>
<p>”Lha yo ndak usah ikut dulu Lik, biar diganti yang lain saja tho. Lagipula kan memang belum sembuh tho? Jangan memaksakan diri. Wong cuma lomba tarik tambang saja kok.” saran saya sambil minta dibuatkan lagi teh tawar panas gelas kedua.</p>
<p>”Weh&#8230;, ya ndak bisa gitu tho Mbak. Ini lomba lho!! Dalam rangka memperingati tujuh-belas Agustus! Hari kemerdekaan bangsa kita,Mbak!! Mosok ya kita menyerah berpartisipasi hanya karena lara boyok? Sakit pinggang? Waaaahh&#8230;.. ngisin-isini Mbak, memalukannnnn&#8230;.. Saya yakin kok, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Bung Tomo itu dulu juga pernah mengalami sakit pinggang. Tapi apa ya mereka njur cuti dulu berjuangnya gara-gara sakit pinggang? Kan nggih mboten tho? Nggak kan Mbak? Makanya, saya harus cari dukun urut yang jos gandhos top markotop untuk menyembuhkan saya! Pesta kemerdekaan lho Mbak, mosok ya ndak ikut merayakan?!”</p>
<p>Plakkkk&#8230;.. sekali lagi saya ditampar. Kali ini lebih keras. Saya, yang notabene mahasiswa, generasi harapan bangsa, ujung tombak pergerakan demokrasi, yang harusnya menjadi pribadi-pribadi yang kritis, idealis dan nasionalis, memilih pergi ke pesta ulang tahun, jingkrak-jingkrak dugem (meski akhirnya pusing sendiri), daripada datang rapat karang taruna dimana bisa dipastikan sumbang saran saya akan menjadi masukan yang berguna demi pelaksanaan malam tirakatan perayaan pesta kemerdekaan bangsa kita.  Di lain sisi, Lik Gembus blingsatan, kebingungan, dan sedih membayangkan tidak akan bisa mengikuti lomba tarik tambang hanya gara-gara sakit pinggang. Kalut gara-gara tidak bisa ikut menyumbangkan apa yang dia punya untuk merayakan pesta kemerdekaan bangsa. Lik Gembus berupaya keras mencari cara agar sakit pinggangnya bisa diatasi dan dia bisa berlaga pada medan tarik tambang. Hm&#8230; dua pesta yang berbeda&#8230; dan saya memilih pesta yang salah.</p>
<p>”Lik, ini namanya arak gosok. Oleskan saja di pinggangmu. Panas buanget, tapi ini manjur. Semoga cepat sembuh ya, pokoknya besok saya jadi suporter sampeyan!”  kata saya sambil menyerahkan sebotol kecil arak gosok persediaan saya di kost, setelah saya sempat lari ke kost sebentar untuk mengambilkannya. </p>
<p>”Suporter untuk pertandingan yang mana ini, Mbak Cenil? Yang di lapangan apa yang di kamar? Wahahahaha&#8230;. ” Pak Kliwon menyahut sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, pertanda dia akan segera pulang.</p>
<p>Saya cuma nyengir sambil mengedipkan sebelah mata. </p>
<p>Cheers,</p>
<p>Lby (10/08/09;14:45)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=195&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/14/dugem-vs-tarik-tambang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lepas</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/08/hasrat-2/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/08/hasrat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 01:47:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>malamungu</dc:creator>
				<category><![CDATA[poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Kutatap matanya yang menghitam&#8230; Menyandarkan diri ke dadanya yang bidang&#8230; Kamu berpagut dalam heningnya malam, menyusuri setiap titik sela tubuh&#8230; Kupeluk erat laki-laki itu, membiarkannya menciumi tubuhku.. Tubuhku tergetar, terasa ada gelora di dada&#8230; Selangkanganku mulai basah, tak mampu lagi menahan diri&#8230; Tangannya yang kokoh mulai menyusuri setiap lekuk tubuhku, bermain dengan lembut dan liar&#8230; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=192&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kutatap matanya yang menghitam&#8230;</p>
<p>Menyandarkan diri ke dadanya yang bidang&#8230;</p>
<p>Kamu berpagut dalam heningnya malam, menyusuri setiap titik sela tubuh&#8230;</p>
<p>Kupeluk erat laki-laki itu, membiarkannya menciumi tubuhku..</p>
<p>Tubuhku tergetar, terasa ada gelora di dada&#8230;</p>
<p>Selangkanganku mulai basah, tak mampu lagi menahan diri&#8230;</p>
<p>Tangannya yang kokoh mulai menyusuri setiap lekuk tubuhku, bermain dengan lembut dan liar&#8230;</p>
<p>Lidahnya membuatku melayang&#8230;</p>
<p>Bibirnya mulai bergerilya, dari leher ke dada berusaha mencari putiknya&#8230;</p>
<p>Tanpa kusadari dia sudah mencapai selangkanganku&#8230;</p>
<p>Saya tak tahan lagi, kubalas menggenggam dan memainkan bagian tubuh diantara pahanya&#8230;</p>
<p>Dia menghujam, saya menahan teriakan&#8230;</p>
<p>Kami berpacu dalam pergulatan, mencoba saling memuaskan&#8230;</p>
<p>Setiap tetes keringat menandakan kenikmatan&#8230; Punggungku bergetar&#8230;, tubuhku mengejang&#8230;, mataku terpejam&#8230;</p>
<p>Dia memeluk tubuhku dengan kuat, kutatap lekat matanya yang mulai terpejam&#8230;</p>
<p>Ini tak kan menjadi malam terakhir&#8230;, meski dia bukan milikku&#8230;</p>
<p>Sayalah sang pelacur&#8230;</p>
<p>Kubiarkan diriku jatuh ke setiap lelaki, lelaki yang menginginkan tubuhku&#8230;</p>
<p>Saya tak peduli meski mereka tak akan jadi milikku, selama diriku puas&#8230;</p>
<p>by Night</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=192&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/08/hasrat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3fde3505b0ffcb5afea92d55553a4127?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Night vs Lembayung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tempe Gembus, Lik Gembus, dan Berita Saru</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/06/tempe-gembus-lik-gembus-dan-berita-saru/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/06/tempe-gembus-lik-gembus-dan-berita-saru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 04:24:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/2009/08/06/tempe-gembus-lik-gembus-dan-berita-saru/</guid>
		<description><![CDATA[By: lembayung &#8211; SOLO the spirit of java    “Wah…, tumben Mbak Cenil jam segini sudah nongol!!!” sapa Lik Gembus, pemilik angkringan di dekat kost-an saya. Memang sore ini kadingaren, alias di luar kebiasaan karena baru saja terdengar adzan maghrib tapi saya sudah nongkrong di sana. ”Iyo Lik, lagi bete ini, anak kost pergi semua, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=190&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: lembayung &#8211; SOLO the spirit of java </p>
<p> </p>
<p>“Wah…, tumben Mbak Cenil jam segini sudah nongol!!!” sapa Lik Gembus, pemilik angkringan di dekat kost-an saya. Memang sore ini kadingaren, alias di luar kebiasaan karena baru saja terdengar adzan maghrib tapi saya sudah nongkrong di sana.</p>
<p>”Iyo Lik, lagi bete ini, anak kost pergi semua, daripada ngelamun jorok lak yo mending nongkrong di sini to&#8230;, ada temannya.” jawab saya sambil memperhatikan Lik Gembus yang sedang membuat api arang.</p>
<p>”Halah, opo yo priyayi puteri itu suka ngelamun jorok to Mbak? Biasanya yang suka jorok-jorok itu kan laki-laki, nggih?” tanya Lik Gembus. Wah&#8230;, ini dia&#8230;., barangkali masih penganut paham perempuan itu harus yang baik-baik, pandangan berbau konservatif, dengan tingkat diskriminasi terselubung yang tinggi.</p>
<p>”Lho, lha ya perempuan sama laki-laki itu opo bedanya Lik? Wong ya sama-sama punya mata buat bisa lihat yang cantik dan ganteng, lihat betis indah, lihat perut sixpack, lihat dada penuh, dan juga lihat dada bidang? Sama-sama punya pikiran yang bisa membayangkan sedang jalan digandeng cowok nggantheng, membayangkan dicium cewek yang cantiknya seperti Dian Sastro? Huayooo&#8230;. rak yo sami mawon to? Sama saja?” cerocos saya sambil memilih-milih tempe gembus goreng yang tipis-tipis.</p>
<p>Sambil menunggu jawabannya, saya letakkan dua tempe gembus goreng itu di atas planggrangan untuk dibakar di atas arang. Saya lihat Lik Gembus masih sibuk menata gelas dan piring kecil di pojok gerobak angkringnya. Saya tidak sabar menunggu jawabannya yang selalu ngeyel itu. Ngeyelnya itu selalu membuat saya kangen, karena meskipun ngeyel, Lik Gembus tidak pernah hanya sekedar ngeyel.</p>
<p>”Lha iya to Mbak Cenil, memang perempuan dan laki-laki itu sama-sama punya perasaan, pikiran, mata, telinga, hidung, kepala, pundak, lutut-kaki-lutut-kaki, lha tapi kan yang namanya perempuan itu kan ya tetap perempuan, nantinya akan jadi sosok ibu, yang akan menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Ibu adalah sosok perempuan yang halus, kuat, dan sekaligus suci. Ya nggak pantes ah kalo perempuan itu suka ngelamun yang jorok-jorok. Saru!” jawab Lik Gembus menghitung nasi bungkus yang baru saja dikeluarkannya dari tas kresek hitam besar.</p>
<p>Wah&#8230;ini&#8230;., ini dia kalau sudah keluar statement ”yang namanya perempuan ya tetap perempuan&#8230;” susah ini&#8230;. membatasi kaum saya untuk maju. Pikiran saya menerawang jauh melintasi kepul api arang yang membakar tempe gembus saya&#8230; baru-baru ini saya sebenarnya juga prihatin dengan perkembangan teknologi informasi terutama yang berhubungan dengan media yang semakin menyajikan kevulgaran erotisme, terutama pada media online yang notabene lebih banyak diakses oleh orang-orang yang berpendidikan, yang sebenarnya mereka bisa memilih dengan bijak berita-berita apa yang akan diakses.</p>
<p>Di Indonesia, internet hanya masih merupakan milik strata tertentu saja, dan orang-orang seperti Lik Gembus, tukang-tukang becak, dan gerombolan kaum proletar tidak pernah tahu dan bersentuhan dengan yang namanya teknologi internet. Kalau saja Lik Gembus tahu bahwa erotisme online lebih heboh lagi, bisa jadi dia tambah geleng-geleng kepala (atau malah minta diajari akses internet?). Saya jadi ingat juga dengan sebuah media yang menampung berbagai artikel dari berbagai penulis yang sarat dengan informasi, bukan website khusus seks. Apa pun bentuk artikel itu, saya tetap menganggapnya sebagai sumber informasi yang bisa membuka wacana saya dalam berbagai hal.</p>
<p>Ada yang unik yang berkaitan dengan debat saya dengan Lik Gembus tadi, bahwa ada artikel yang selalu berinfokan tentang kevulgaran erotisme yang selalu banyak diklik oleh pembaca, dan ternyata penulisnya adalah seorang perempuan. Nah lho Lik, ternyata perempuan itu kok ya berbakat berimajinasi. Hebat berfantasi. Mungkin dalam bahasanya Lik Gembus itu mikir yang saru-saru kali ya. Tulisannya memang sarat informasi, banyak sekali yang bisa didapat dari artikel itu. Dengan penyajian yang menarik, sedikit nyerempet-nyerempet, akan sangat asyik dibaca, membangun dunia kita sendiri. Mungkin suatu saat nanti artikel itu perlu saya print untuk saya tunjukkan kepada Lik Gembus. Lha tapi apa ya dia itu mengenal dildo, vagina getar, dan kondom bergerigi? Apa dia juga tidak pingsan kalau tahu yang menulisnya adalah seorang perempuan?</p>
<p>”Lho, Mbak&#8230;. kok malah ngalamun to? Jangan-jangan mikir saru ya?” tegur Lik Gembus sambil menyajikan wedang jahe gepuk pesanan saya. Saya tersentak kaget.</p>
<p> “Hush, Lik Gembus nih lho…, ngawur aja. Anu Lik, saya mau cerita kalau ada seorang penulis yang spesialis nulis artikel esek-esek, tapi penulisnya itu perempuan lho Lik. Tulisannya juga bagus, informatif dan menghibur. Pembacanya juga buanyak. Mau ndak saya kasih artikelnya?”</p>
<p>“Weeeehhh….??!!!! Lha masak sing nulis begituan itu priyayi puteri to Mbak? Tenane??!!” sahut Lik Gembus tidak percaya. “Lho, kalau yang nulis perempuan memangnya kenapa,Lik? Wong yang punya hasrat seks itu ndak cuma laki-laki lho. Istri sampeyan kan ya bergairah to sama sampeyan? Mosok cuma sampeyan tok yang nyeruduk lho!! Menulis juga sama saja, laki-laki, perempuan, punya kesempatan dan hak yang sama.” kali ini saya kok lebih ngeyel daripada dia.</p>
<p>”Waaa&#8230;, wis jan repot tenan iki. Sekarang saya tanya sama Mbak Cenil. Apa ya Mbak itu suka baca tulisan esek-esek? Hobi gitu? Lha wong koran-koran mesum aja sering digropyok satpol-pp lho Mbak. Nanti kalo Mbak Cenil ketahuan suka baca begituan juga ikut digropyok!” tandas Lik Gembus. ”Hush Lik, ngawur wae. Saya memang sesekali baca artikel begituan, tapi tetap pilih-pilih Lik, cari yang ada informasinya, bukan yang mengumbar kevulgaran erotisme semata. Lagipula baca begituan lama-lama bikin saya mblenger,Lik. Lha piye, wong saya belum menikah jhe. Kalau saya kepengin lha saya mau sama siapa. Hahahaha&#8230;.” jawab saya sambil menyeruput wedang jahe yang masih kepul-kepul uap panasnya.</p>
<p>”Puuun&#8230;..wis, nggak usah dibahas lagi Mbak Cenil, saya kok malah malu sendiri ngomongin begituan sama Mbak lho&#8230; sementara sampeyan malah ngomong terus cas cis cus tanpa rikuh risih. Sampeyan itu perempuan lho Mbak&#8230;.., perempuan itu harus halus budi pekertinya, trengginas, tapi tetap santun. Lak yo begitu itu priyanyi jowo. Kalau memang apa itu net-net itu banyak berita saru-sarunya ya baca seperlunya saja, kalau tidak perlu ya mendingan baca yang lain, baca resep masakan misalnya, kan itu lebih keibuan, sesuai kodrat perempuan. Bagus buat sampeyan. Lak nggih to?” begitu nasehat Lik Gembus.</p>
<p>Saya merenungkan kata-katanya, yang malah membawa saya pada iklim komparasi, membandingkan antara perempuan jawa dan perempuan global, perempuan konservatif dan modern, perempuan konco wingking dan perempuan berpendidikan. Tetapi yang terngiang-ngiang di kepala saya kok malah kata-kata Lik Gembus, “yang namanya perempuan ya tetap perempuan&#8230;”</p>
<p>Segera saya bayar dua tempe gembus goreng dan satu gelas wedang jahe, lalu pamitan pada Lik Gembus. “Lho, tumben tergesa-gesa Mbak, apa mau ada acara?” tanya Lik Gembus sambil memberikan uang kembalian saya. “Yo Lik, mau buru-buru ke toko buku, beli kumpulan resep makanan. Wis yooo…”</p>
<p> </p>
<p>Cheers, Lby (31/07/09;09:42)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=190&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/08/06/tempe-gembus-lik-gembus-dan-berita-saru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya Gila, Kamu Waras: So what geto lohh!!</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/22/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/22/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 03:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung – SOLO the spirit of java Guys,  kamu pasti tahu, kalau kamu dihasilkan dari perbedaan. Dilahirkan dari hasil persetubuhan dua kelamin yang berbeda, dilahirkan dari  hasil percumbuan dua lubang yang besarnya berbeda, dan dilahirkan dalam perbedaan suhu bunda dan ruang bersalin. Kamu dibesarkan dengan menu makan yang tidak melulu sejenis, bubur beras merah lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=188&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lembayung – SOLO the spirit of java</p>
<p>Guys,  kamu pasti tahu, kalau kamu dihasilkan dari perbedaan. Dilahirkan dari hasil persetubuhan dua kelamin yang berbeda, dilahirkan dari  hasil percumbuan dua lubang yang besarnya berbeda, dan dilahirkan dalam perbedaan suhu bunda dan ruang bersalin. Kamu dibesarkan dengan menu makan yang tidak melulu sejenis, bubur beras merah lagi dan lagi. Ada kalanya bundamu menyelingi makanmu dengan bubur kacang hijau, bubur rasa pisang, atau apel. Karena meskipun masih batita dan belum bisa berdemonstrasi menolak kebijakan politik keluarga, toh kamu sudah bisa menyuarakan ketidak-sukaanmu pada jenis makanan yang disuapkan ke mulutmu. Berbagai reaksi akan dapat terbaca oleh orang tuamu, mulai dari tidak mau makan, muntah, atau berak-berak cair (untuk mengganti menyebut kata ***cret), sehingga orang tuamu yang baik akan bisa menangkap maksudmu. Sebenarnya, sadar atau tidak sadar, kita sudah terbiasa (atau setidaknya dibiasakan) untuk hidup dalam perbedaan sejak kita diciptakan. Seiring berjalannya waktu kita akan semakin dihadapkan pada dunia nyata yang penuh dengan jutaan indikator kehidupan yang berdimensi pada perbedaan.</p>
<p>But, alias tetapi, alias <em>ning</em>, mengapa ketika kita beranjak dewasa dan mulai bisa menggunakan kedua bagian otak kiri dan kanan tidak malah membuat kita bijaksana dalam menyikapi perbedaan? (sengaja dibuat satu paragraf untuk satu kalimat saja supaya bisa agak direnungkan&#8230;)</p>
<p>Contoh kasus adalah soal kebebasan penyaluran aspirasi politik kita. Simbok saya adalah fans berat capres Joko Cengir, sedangkan bulik saya penganut setia capres Joni Cupu. So, mereka berdua mencontreng dua capres yang berbeda. Meski dalam rumah simbok saya mencerca habis-habisan capres Joni Cupu, tetapi ketika simbok dan bulik bertemu, mereka tetap asyik masyuk tukar cerita tentang aneka kue dan batik. Ranah pilihan capres tidak mereka singgung sama sekali, karena sudah tahu sama tahu dan saling mahfum atas pilihan dan pandangan masing-masing. Meskipun untuk tingkatan kaum intelektual, biasanya perbedaan ini justru akan dibahas, dijadikan bahan diskusi, untuk saling mengupas kedua sisi perbedaan ini secara menyeluruh tanpa bermaksud pemaksaan pengaruh satu kepada yang lain. Tetapi ya lumayanlah, untuk simbok dan bulik yang lulusan SMEA sudah bisa menghindari konflik hanya karena perbedaan pilihan pemimpin mereka.</p>
<p>Itu tadi contoh kasus soal penyaluran aspirasi politik. Bagaimana dengan kasus penyaluran aspirasi dari seorang penulis yang biasanya dituangkan dalam bentuk tulisan? Sejauh apakah kebebasan penulis itu mengeksplorasi ide-idenya? Dan seluas apakah ranah perbedaan yang <em>we have to deal with</em> dalam dunia jurnalistik? Tentu saja seorang penulis tidak akan memuaskan semua pihak, karena penulis pasti akan menyadari kemajemukan (baca:perbedaan) dari setiap pembacanya. Apakah penulis terbebani dengan dimensi perbedaan itu? Saya rasa mungkin sebagian ada yang iya, tapi yang tidak pun juga banyak. Lho, ternyata penulis pun juga majemuk <em>to</em>, penulis itu juga termasuk dalam dimensi perbedaan. Jadi seharusnya menjadi kewajaran jika penulis satu akan menghargai karya penulis yang lain, dan akan diikuti dengan pembaca yang satu akan menghargai pembaca yang lain. Jika meningkat ke arah yang lebih edukatif, para penulis akan saling mengkritisi dan memberi masukan pada hasil karya penulis yang lain. Seperti buku berjudul “Mengenal Umar Kayam Luar Dalam” tidak berisi layaknya memoir biasa yang hanya berisi pujian dan ulasan <em>track record</em> yang bagus dari sang tokoh, tetapi juga berisi artikel-artikel yang mengkritisi karya-karya beliau. Sang Umar Kayam memang sudah tidak bisa membaca (mungkin sih bisa juga membaca dari alam lain, saya kurang tahu karena belum pernah berkunjung ke sana), tetapi generasi penerusnya akan bisa membaca, merenungkan, dan belajar juga perbedaan yang ada. Jadi apakah perbedaan dalam dunia jurnalistik itu wajar? Bukan hanya wajar, tapi merupakan suatu keniscayaan dan sangat menggali kreativitas.</p>
<p>Bagaimana dengan perbedaan dalam kasus psikologi? Jika kamu menganggap dirimu waras, hampir semuanya tidak akan mau berdekatan dengan orang gila (kecuali profesimu dokter jiwa atau psikiater). Tapi bisakah kamu yang mengaku waras bersahabat dengan orang gila? Punya jalan hidup, dunia, dan pikiran yang berbeda, tetapi bisa saling bergandengan tangan berkaitan kaki? Bisa nggak hayo? Saya gila, kamu waras, so what gitu lohhh??!!!</p>
<p>Cheers,</p>
<p>Lby (18/07/09;12:23)</p>
<p>Note: artikel ini juga dimuat di http://nusantara-global.com/2009/07/20/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=188&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/22/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ulang Tahun dan Sahabat</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/04/ulang-tahun-dan-sahabat/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/04/ulang-tahun-dan-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 04:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/2009/07/04/ulang-tahun-dan-sahabat/</guid>
		<description><![CDATA[By: Lembayung Beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahun saya. Tidak biasanya, dan belum pernah terjadi seumur hidup saya dimana saya masih terjaga pada detik-detik pergantian tanggal ketika kedua jarum jam tepat melewati angka dua belas. Selama ini meskipun saya termasuk orang yang susah tidur dan jam tidur saya ada di sekitar 0100-0200 dinihari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=187&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Lembayung</p>
<p>Beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahun saya. Tidak biasanya, dan belum pernah terjadi seumur hidup saya dimana saya masih terjaga pada detik-detik pergantian tanggal ketika kedua jarum jam tepat melewati angka dua belas. Selama ini meskipun saya termasuk orang yang susah tidur dan jam tidur saya ada di sekitar 0100-0200 dinihari tetapi jika pas hari ultah saya, saya selalu sudah tertidur sebelum jam 0000. Kalau terbangun, itu pasti karena terpaksa menerima telepon teman-teman yang mengucapkan selamat ultah saja.</p>
<p><img title="3rd-bday-3-blog" src="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/07/3rd-bday-3-blog.jpg?w=248&#038;h=300" alt="3rd-bday-3-blog" width="248" height="300" /></p>
<p>Kali ini sambil membaca John Grisham The Majesty, tidak sadar ketika melihat jam ternyata sudah menunjukkan 0005, yang dengan penuh kesadaran segera saya tutup novel itu dan mengambil posisi berdoa (seumur hidup saya,di hari ultah saya tidak pernah tengah malam berdoa khusus seperti itu). Lepas tengah malam itu saya mulai membuka doa dengan ucapan syukur karena masih diberi kesempatan memperbaiki kualitas hidup saya, diberi bonus satu tahun dari tahun kemarin. Entah mengapa saat itu saya merasa saya tidak penting lagi, karena pada detik itu saya merasa sungguh berkecukupan (walaupun itu mungkin euforia belaka), sehingga doa saya lanjutkan dengan mendoakan kedua orang tua saya agar diberi kesehatan dan kebahagiaan menjelang masa senja. Kepada adik saya agar dipompa semangat hidupnya sehingga selalu tergerak untuk meraih yang terbaik baginya. Kepada sahabat-sahabat terdekat saya, Tiur semoga diberi ketabahan dan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi cobaan-cobaan hidupnya yang membuat saya selalu salut dengan kegigihannya memperjuangkan kepentingan keluarga. Putri, yang saya mohonkan untuk diberi kehendak yang kuat dalam meraih semua mimpi-mimpinya yang selalu membuat saya iri karena dia bisa bermimpi dengan begitu indah dan terlihat sangat yakin akan bisa meraih mimpinya. Sekar, yang saya mohonkan untuk diberi pencerahan atas kebimbangan dan kegamangan hatinya dalam menentukan pilihan hidup untuk masa depannya, yang selalu membuat saya ikut merefleksikan apa saja hal yang sudah kita raih sampai sekarang dan apa saja yang harus kita lakukan untuk terus maju dan optimis menjelang masa depan. Terakhir, saya berdoa untuk sahabat saya yang lain, Night, seorang sahabat yang meski akhir-akhir ini intensitas relasinya berkurang tetapi ketika dibutuhkan, dia selalu menjadi tempat sampah yang terbaik untuk saya. Saya mohonkan supaya dia diberikan optimisme yang mampu memupuk kualitas seorang Night sehingga menjadi energi positif bagi orang-orang yang mengenalnya, seperti sebagaimana saya mengenalnya selama ini.</p>
<p>Sengaja saya tak mendoakan diri saya sendiri, entah karena saya tidak tahu harus memohon apa, atau malah mungkin karena desakan permohonan-permohonan yang maha banyak bergumul dalam otak saya. Tetapi yang jelas tengah malam itu saya merasa ringan dan begitu dekat dengan para sahabat yang tak satu pun tinggal sekota dengan saya. Merasa merayakan dua puluh delapan tahun perjalanan saya mencari kualitas hidup terbaik dengan pesta ulang tahun maya dengan para sahabat yang hadir dalam gelombang imajinasi saya. Di umur yang seharusnya saya sudah menggenggam asa akan kepastian dan penentuan pribadi ternyata masih bolong di sana-sini. Tak apalah. Yang jelas, kali ini saya merasa kebutuhan akan sahabat yang bisa terpenuhi bukan dengan tatap mata atau suara dalam kabel. Hanya cukup hadir dalam imaji saya. Well, tidak pernah menyangka kalau itu ternyata cukup lho&#8230;.</p>
<p>Cheers,</p>
<p>Lby (04-07-09;11:34)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=187&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/04/ulang-tahun-dan-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/07/3rd-bday-3-blog.jpg?w=248" medium="image">
			<media:title type="html">3rd-bday-3-blog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Disperindag Solo Amburadul!</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/03/disperindag-solo-amburadul/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/03/disperindag-solo-amburadul/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 07:24:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[By: Lembayung Beberapa hari yang lalu (Kamis,2 Juli 2009) saya mendatangi Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Solo yang beralamat di Kottabarat untuk meminta pengesahan ijin penelitian thesis. Saya diminta untuk meninggalkan surat itu karena Kepala Disperindag sedang tidak ada di tempat sehingga tidak ada yang menandatangani. Saya disuruh kembali lagi hari Senin karena kata seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=185&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By: Lembayung<br />
</strong></p>
<p>Beberapa hari yang lalu (Kamis,2 Juli 2009) saya mendatangi Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Solo yang beralamat di Kottabarat untuk meminta pengesahan ijin penelitian thesis. Saya diminta untuk meninggalkan surat itu karena Kepala Disperindag sedang tidak ada di tempat sehingga tidak ada yang menandatangani. Saya disuruh kembali lagi hari Senin karena kata seorang ibu (saya tidak tahu namanya karena tidak pakai ID-card) hari Jumat-nya cuma setengah hari kerja dan belum tentu Kepala-nya ada di kantor, dan hari Sabtu kantor libur. Saya menanyakan mengapa harus tiga hari, sementara saya mengurus ijin di kantor Bappeda dan Kesbanglinmas saja bisa langsung jadi. Jika alasannya adalah Kepala Dinasnya tidak ada di tempat, apakah tidak ada staff lain yang diberi kewenangan untuk mengesahkan surat ijin penelitian? Bagaimana kalau Kepala Dinasnya bepergian ke luar kota selama berhari-hari atau berminggu-minggu, apakah pelayanan masyarakat harus terganggu? Akhirnya saya diminta oleh ibu tadi untuk menelepon pada hari Jumat 3 Juli pada jam 08.00 pagi dengan contact person Sdr.Tafrikan, untuk menanyakan apakah surat ijin saya sudah jadi atau belum.</p>
<p>Hari Jumat saya menelepon pada jam 09.00 pagi, berbicara langsung dengan Sdr.Tafrikan, menanyakan apakah surat ijin penelitian saya sudah jadi, tetapi malah dijawab dengan sedikit membentak,”Kenapa kok buru-buru sih,mbak?!!” Saya heran, jawaban macam apa ini. Saya jadi membuktikan sendiri kata orang, bahwa dalam institusi pemerintah itu jika ada yang bisa dipersulit kenapa harus dipermudah. Ketika saya tanyakan lagi kapan surat saya jadi, malah dijawab dengan kalimat tidak tahu lagipula Bapak Kepala Dinas belum datang. Jam 09.00 pagi dimana kantor pemerintah harusnya beroperasi mulai jam 07.00, sang Bapak Kepala Dinas belum datang ke kantor. Padahal tidak ada yang didelegasikan untuk berwenang memberikan cap dan tanda-tangan surat ijin penelitian. Lebih lanjut Sdr.Tafrikan malah menyuruh saya untuk tidak memojokkan dia, karena dia cuma staff yang tidak tahu apa-apa. Lho, kalau dia tidak tahu apa-apa, mengapa saya disuruh menelepon dengan contact person kepada Sdr.Tafrikan. Saya pikir ini lebih lucu dari Srimulat.</p>
<p>Sdr.Tafrikan menyuruh saya untuk datang ke kantor lalu nanti akan diberikan cap dan dimintakan tanda tangan.Saya bertanya kenapa kok tidak segera diurus saja, toh surat ijin saya sudah ditinggal di sana sejak kemarin, sehingga jika sudah jadi baru akan saya ambil. Sdr.Tafrikan mengatakan kenapa saya susah disuruh datang ke kantor. Buat apa saya datang kalau saya harus menunggu Bapak Kepala Dinas yang tidak tahu kapan akan datang ke kantor. Padahal saya adalah seorang karyawan yang tidak bisa seenak sendiri keluar-masuk-ijin dari kantor.</p>
<p>Ketika saya mengatakan bahwa saya adalah seorang karyawan sehingga tidak bisa seenaknya ijin, dan saya menanyakan kapan surat saya bisa jadi, atau kapan saya bisa menemui Bapak Kepala Dinas, Sdr.Tafrikan malah bilang tidak tau lalu menutup telepon dengan kasar. Saya kecewa dan marah sekali dengan sistem yang berlaku di Disperindag. Sdr.Tafrikan adalah salah satu oknum, salah satu pelaku sistem yang amburandul di dalam Dinas yang sedang berkasus dan bahkan pejabat-pejabatnya baru saja divonis karena ada penyalahgunaan dana pemerintah.</p>
<p>Beda dengan pelayanan publik yang dilakukan oleh Kantor Kesbanglinmas dan Bappeda, yang memberikan <em>excellent service</em>. Bahkan Divisi Litbang Kesbanglinmas membantu saya untuk merevisi surat ijin penelitian saya dengan membantu mengetik-kannya (padahal harusnya saya sendiri yang mengetiknya) karena saya belum pernah memakai mesin ketik manual. Divisi Litbang Kesbanglinmas melayani saya dengan penuh keramahan dan dedikasi yang tinggi terhadap pengabdian masyarakat. Begitu pula dengan Divisi Litbang Bappeda, yang dengan penuh perhatian melayani pengesahan surat ijin penelitian, penuh keramahan, dan bahkan Sdr.Rosyid mengajak saya mengobrol tentang penelitian yang akan saya lakukan dan bagaimana analisis-analisis saya.</p>
<p>Akhirnya saya tiba pada satu kesimpulan subyektif, bahwa SDM yang ada di dinas yang tidak berkantor di Balai Kota adalah orang-orang buangan, dimana tidak punya dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya, plus adanya sistem yang amburadul membantu pada oknum itu untuk <em>lenggang kangkung </em>dan <em>sak enake wudele dhewe</em> dalam melakukan pekerjaannya, dimana yang saya tahu pegawai negeri adalah bekerja untuk rakyat, abdi negara, melayani masyarakat.</p>
<p>Mungkin bisa menjadi perhatian bagi Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) yang seharusnya bisa menjadi badan yang aktif dalam upaya pengawasan aktivitas kerja sehingga dinas-dinas pemerintah beserta oknumnya bisa bekerja secara profesional dan bisa menjiwai makna pegawai negeri sebagai abdi negara dan masyarakat.</p>
<p>But, sekali lagi, ini cuma penilaian subjektif saya lho, kalau ada yang tidak terima ya <em>monggo kemawon&#8230;.</em> he&#8230;he&#8230;he&#8230;.</p>
<p>Cheers,</p>
<p>Lby (03/07/09;11:00)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=185&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/07/03/disperindag-solo-amburadul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Try To Let Her Go</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/05/18/try-to-let-her-go/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/05/18/try-to-let-her-go/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 13:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>malamungu</dc:creator>
				<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Night &#8211; Pontianak Tak pernah menjadi cukup baik&#8230;, seorang lelaki yang brengsek, meski diriku menyangkal punya intensi untuk melakukan hal demikian&#8230; Pertama kali dekat dengan cewek dia mengejarku, saya luluh karena tidak tega tapi tanpa perasaan sayang &#8211; mungkin hanya nafsu. Dia agresif, itu alasan semuanya menjadi mudah untukku&#8230; Saya tidak pernah menyesali membuangnya, anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=168&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong> Night &#8211; Pontianak</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">Tak pernah menjadi cukup baik&#8230;, seorang lelaki yang brengsek, meski diriku menyangkal punya intensi untuk melakukan hal demikian&#8230;</p>
<p>Pertama kali dekat dengan cewek dia mengejarku, saya luluh karena tidak tega tapi tanpa perasaan sayang &#8211; mungkin hanya nafsu. Dia agresif, itu alasan semuanya menjadi mudah untukku&#8230;</p>
<p>Saya tidak pernah menyesali membuangnya, anak orang kaya bahkan tajir banget&#8230; Honestly I realised she is not the one and she wasn&#8217;t.</p>
<p>Kejadiannya bermula setelah tamat SMA, mantan ketua OSIS ini baru mengenalku, how come after 3 years in a same school and she didn&#8217;t know I was there&#8230; Setelah menyadari diriku satu sekolah dia mulai rajin menghubungiku, entahlah apa yang menarik dari diriku, saat itu dia telah memiliki pacar dan memutuskannya demi mengejar diriku (yang menurutnya mereka telah pacaran 3 tahun).</p>
<p>Dia kaya, dan tentu saja saya minder. Selalu mengajakku jalan, membayar biaya kencan, tapi sepertinya saya memanfaatkannya&#8230;, pada akhirnya hanya dalam 2-3 minggu setelah jadian saya memutuskannya, menghindarinya. Dia menangis, menghubungi teman-temanku curhat bagaimana menaklukkanku, saya tidak peduli&#8230;, bahkan takut dengan apa yang dia lakukan&#8230;</p>
<p>Dengan berjalannya waktu di masa kuliah saya mulai kenal seorang wanita, ibunya hanya seorang penjual pisang goreng. She is my first love, but I always hurt the one I loved&#8230; Bagian terbaik dari hidupku, bukan perpisahan yang kutangisi bersamanya tapi perkenalan ini yang kusesali karena hanya menyakitinya&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">Perkenalan ini dimulai dari awal kuliah, dia manis, teman-temanku berusaha menaklukkan hatinya. Saya hanya sekedar mengenalnya dan tidak terlalu peduli&#8230; Suatu hari temanku yang ingin pedekate dengannya mengajakku ke rumahnya, ternyata rumahnya jauh dari kampus, lebih dari setengah jam naik motor.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Sabtu sore, aku diajak temanku ke rumahnya. Dengan celana pendek dan T-shirt ditemani sendal jepit, aku kerumahnya bersama temanku. Saya berbasa basi, temanku pedekate dengan semangatnya&#8230; Kisah ini selalu diingatnya dan diungkit kepadaku, temanku yang pedekate dan aku yang jadian, itulah pertama kali kami mulai dekat&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Dia tau saya sering bolos kuliah, kadang-kadang kita ketemu ketika dia tidak ada kelas dan aku sedang mangkir dari kelas. Dia tidak respek dengan kelakuanku&#8230;. Namun entah kenapa kami malah semakin dekat, dia mengatakan aku memperlakukan sangat berbeda, tidak seperti cowok-cowok lain yang memberinya perhatian, saya malah sering menngerjai dan menjadikannya olokan&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Suatu hari abangnya sakit dan tidak bisa menjemputnya pulang kuliah, dengan terpaksa dia menghubungiku, memintaku mengantarnya pulang. Saat itu kami memang telah dekat tapi tidak ada tanda bakal jadian, saya tak pernah berpikir dia akan tertarik dengan cowok sepertiku, apalagi cowok lain yang mengejarnya kelas bermobil. Saya mulai rajin menghubunginya dan responnya sangat baik, bahkan tidak menghindar seperti halnya ketika teman-temanku pedekate ke dia. Dari sering telepon saya baru menyadari sayalah satu-satunya cowok yang pernah memboncengnya, dia tidak pernah pacaran sebelumnya karena dilarang kakaknya. Dari situ juga belum ada tanda seperti layaknya orang pedekate, hanya saling meledek&#8230;, saya mulai merasa tertarik dengan kepribadiannya, wajah manis ternyata memiliki hati yang baik.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Suatu hari saya sedang bolos bersama teman-temanku dan lagi-lagi dia sedang tidak ada kelas. Dosennya tidak ada. Dia menelponku, mengajak jalan bersama teman-temannya karena kekurangan motor. Dia minta kuantar dan sekalian jalan bareng, tentu saja ku-iyakan. Setelah sampai di mall, saya berjalan sendirian ke Gramedia dan dia bersama temannya ke Timezone. Saya mulai melihat buku-buku disana, ternyata dia telah berada di dekatku&#8230; Dia keheranan melihatku mengomentari buku-buku disana, keliatan bengal tapi tau isi-isi buku berat (padahal beli buku beginian cuma untuk beratin mata ketika terkena penyakit susah tidur).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Satu ketika kuberanikan diri menembaknya, dia menolak. Saya tidak kecewa karena meski ditolak sikapnya berubah menjadi semakin baik kepadaku. Setelah beberapa minggu kemudian ku tembak lagi dan dia menerima. Sejak saat itu aku resmi menjadi tukang ojeknya mengantar dia pulang kuliah dengan total waktu PP sejam perjalanan. Tidak ada yang banyak berubah, hanya teman-temanku yang shock seorang cewek yang menjadi model dan populer di angkatan kami malah jadian denganku&#8230;, mereka yang menganggapnya sulit ditaklukkan malah jatuh ke pelukan laki-laki yang dianggap paling sembarangan dalam memperlakukan cewek.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Dua minggu jadian saya sukses membuatnya menangis, dia menganggapku tidak serius dan hanya mempermainkannya. Dia minta putus.., saya merasa bersalah dan meminta maaf tapi inilah titik awal dia mengubah sedikit bagian diriku yang tidak pedulian menjadi lebih perhatian. Saya mulai lebih memperhatikannya, berhati-hati menjaga perasaannya&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Setelah kejadian itu dia mengujiku. Sebuah pesan singkat masuk ke mobile phone-ku, saya melihat isinya dan curiga seorang cewek mendadak mengajakku kenalan dan mengetahui detail diriku. Bukan hal yang biasa bagiku menerima sms demikian, akhirnya kuminta temanku yang membalas pesan tersebut, hasilnya temanku menulis yang isinya kira-kira: Kalo ingin kenalan mohon fotocopy KTP dan CV dicantumkan serta jangan lupa disertai foto&#8230; Saya pura-pura tidak tahu pesan itu darinya hingga akhirnya dia mengakui sendiri, demi menjaga perasaannya saya tidak pernah mengakui saya tahu pesan itu darinya, biar kelihatan kalo saya cowok setia haha&#8230; Sampai saat ini saya menganggap cara demikian sangat childish untuk menguji seseorang, bagaimanapun buaya sepertiku tidak akan menolak jika diberi bangkai&#8230;.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Dalam berpacaran sendiri kami dianggap tidak biasa baik oleh temanku maupun temannya, tidak terlihat mojok berduaan di kampus tapi selalu ngumpul bersama teman masing-masing, ini komitmen sejak awal saya tidak ingin kehilangan masa bersama teman hanya karena pacar dan ternyata dia juga demikian. Jadinya pacaran senin-jumat adalah sebagai tukang ojek gratis dengan biaya bensin yang membengkak akibat RX King-ku tidak kooperatif, motor yang pintarnya cuma mutar-mutar dengan mesin 2 tak-nya ini benar-benar boros dan tidak ramah lingkungan&#8230; Hari sabtu demi menekan biaya bensin terpaksa dech nongkrong dirumahnya doank daripada kalo keluar malah meningkatkan biaya bensin, hari minggu diwajibkan bersamanya keluar – biaya bensin lagi&#8230; Minggu malam keluar bersama teman, biaya bensin lagi. Estimasiku peningkatan biaya bensin-ku mencapai 3 kali normal sebelum jadian dengannya, tapi worth it karena biaya makan ditalangi di rumah calon mertua&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Dengan berjalannya waktu saya menyadari hubungan kami selama ini ditutupinya dari kakaknya meski diketahui Ibunya&#8230;, ayahnya sendiri telah pergi sejak dia masih balita.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Perlahan dia jujur kenapa dia menutupi hubunganku dan dia dari kakaknya. Kakaknya mengorbankan dirinya sendiri bekerja membanting tulang demi membiayai kuliah adiknya ini, sejak SMP hingga kuliah dibiayai kakaknya, dan permintaan kakaknya hanya kuliah dengan serius dan jangan pacaran dahulu. Saya baru mengerti kenapa sejak awal tidak ada temanku yang bisa menaklukkannya tapi juga tidak mengerti kenapa dia juga menerimaku, apalagi dia selalu bersikeras saya bukan tipe idamannya yang cuek dengan penampilan dan terkesan nakal . Ibunya sangat percaya denganku, selama ini dia yang di protektif tidak diijinkan keluar malah lebih mudah diajak keluar jika bersamaku&#8230;, bahkan jika dia ingin keluar bersama temannya justru saya yang minta ijin.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Perjalanan kisah cinta ini tidak semulus apa yang kelihatan, saya yang sembarangan menghadapi orang yang lurus, misalnya saja saya sering bolos dan dia tidak menyukai hal beginian. Kenyataannya sampai saat ini jika temanku mengungkit mantanku mereka selalu menganggap kami pasangan yang perfect dan sangat cocok, harus kuakui kami respek satu sama lain dan jarang berdebat. Meski dia lebih emosional dan saya terlalu santai, hasilnya saya selalu menjadi bantalan emosinya tapi saya tidak pernah menganggap hal beginian serius. Dia memiliki kedekatan kepadaku makanya sangat mudah melampiaskan emosinya kepadaku, jika hanya sekedar kenal mustahil donk dia berani marah-marah, justru bagian inilah yang menunjukkan dia merasa tidak ada jarak diantara kami. Kadang-kadang batas ini harus terlewati, saya protes dia sering ngomel dan mendiamkannya. Hanya sehari saja dia menangis melihatku demikian, saya menjadi tidak tega membiarkannya menangis&#8230;, hmm.. kadang kala iseng kutawarin permen seolah memperlakukan anak kecil.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Pada akhirnya satu titik saya mengucapkan putus kepadanya, saat itu saya tidak tahan dia memarahiku atas hal yang dilakukan orang lain dan tidak berhubungan denganku. Sebulan kami hanya berhubungan dengan jarak telepon dan sms basa-basi. Dia hampir jadian dengan cowok lain karena ingin mencari pelarian, sayangnya saya yang menyadari dia menjadi berubah langsung mengejarnya kembali. Sejak kuputuskan dia menjadi pendiam, saya sadar karena masih memperhatikannya dengan menelepon ibunya&#8230; Saat itu ada cowok lain yang mendekatinya, dia mengakui ingin menerima cowok tersebut supaya bisa melupakanku. Ini titik balik perubahan sikapku kepadanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Sebulan putus terjadi pada masa libur kuliah, untungnya bukan pada masa ujian karena jika terjadi pada masa ujian saya pasti khawatir nilainya drop. Itulah alasan saya mencari waktu masa libur, kesalahanku adalah saya tidak memikirkan dampak setelahnya antara saya dan dia dengan putusnya kami, bagaimanapun saya merasa sangat kehilangan dan juga berubah drastis menjadi pendiam. Saya mengejarnya kembali dengan keberanianku yang lumayan tidak biasa, saat itu mendekati imlek bulan february dan dimulainya semester baru. Pada hari harus meregistrasi mata kuliah saya mendekatinya, dia kaget dan bertanya kenapa dekati dia.. Saya minta maaf dan memintanya kembali kepadaku, saya tidak pernah senekat itu disekitar teman-temannya, padahal biasanya saya sok kalem doank. Dia terdiam dan mengomentari bahwa saya terlihat tidak seperti diriku yang seberani itu langsung duduk disampingnya, karena sebelumnya kami saling melirik dari jauh dan seperti saling hindar. Setelah selesai registrasi saya menghampirinya di kawasan halaman kampus, kutawari mengantarnya pulang, dia menolak karena ada cowok yang uda janjian akan mengantarnya pulang.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saya melihatnya dan terdiam, terlintas pikiran ini pertama kali ada cowok lain selain diriku yang memboncengnya dengan motor (selain abangnya ). Dia tersenyum kepadaku seolah membaca pikiranku dan mengatakan cowok itu bawa mobil, ngga sekere diriku. Saya tertawa sinis kecut dan mengucapkan, “yah namanya juga mahasiswa yang masih bermodal dari orang tua, mana bisa dibandingkan dengan cowok yang uda mapan&#8230;”.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><img class="alignleft size-full wp-image-174" title="Lost_angel_by_protogeny" src="http://malamungu.files.wordpress.com/2009/05/lost_angel_by_protogeny.jpg?w=600&#038;h=333" alt="Lost_angel_by_protogeny" width="600" height="333" /></p>
<p style="margin-bottom:0;">Dia protes karena sebenarnya saat itu saya telah bekerja dan berpenghasilan sendiri kemudian tersenyum dan mengatakan bersedia kembali kepadaku tapi dengan semangat minta saya tidak cemburu diantar cowok yang naksir dia tersebut karena uda terlanjur menerima tawaran tersebut&#8230; Saya hanya tertawa dengan pernyataannya karena sukses mengerjainku sebelum bersedia balik kepadaku, saya tidak cemburu karena memang sangat percaya dengannya, apalagi dia langsung jujur mengakui tanpa berusaha menutupi bakalan diantar cowok lain&#8230; Entahlah bagaimana perasaan cowok itu mengetahui hanya jadi bantalan, yang saya tahu cowok itu benar-benar patah hati oleh cewekku&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">Malamnya saya menelepon, dia menangis karena telah melukai hati seorang cowok, memberi harapan tapi menolaknya, seperti biasa merasa bersalah atas sikapnya tersebut (dia sudah ditembak dulu tapi masih menggantungkan jawaban kepada cowok tersebut)&#8230; Saya tak pernah lagi mengucapkan kata putus dan berusaha memahaminya, itu menjadi pertama dan terakhir kalinya kata putus dariku&#8230; Dia juga menjadi lebih logis dalam menggunakan emosinya, dan justru kami semakin akrab dan lebih sering bersama&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Well, kami jadian 3 hari sebelum imlek sekitar awal February, saya ke rumahnya bersama teman-temanku, sesuai tradisi chinese. Inilah pertama kali saya berhadapan dengan kakaknya yang tidak merestui hubungan kami, tapi dia mungkin berpikir saya hanya teman dari adiknya. Kakaknya baru pulang dari Jakarta, saya melihat sangat berbeda dengan cewekku, yang ini terlihat dewasa dan mandiri, mungkin kerasnya hidup telah menempanya menjadi sosok yang kuat. Teman-temanku pergi, sisa saya dan cewekku berdua, malam itu saya mengajaknya keluar berdua diketahui kakaknya, saya tak pernah tau reaksi kakaknya, tidak pernah bertanya&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Setelah imlek, selanjutnya valentine&#8230; Berbeda denganya yang semangat dengan ultah, tahun baru, imlek, termasuk valentine, saya tidak peduli penanggalan demikian. Bahkan kami pernah berdebat ngga penting (tidak sampai bertengkar sih) hanya karena saya tidak peduli ulang tahunku sendiri dimana dia yang kelihatan bersemangat ingin merayakan ala romantis denganku dan saya hanya pengin menganggapnya hari biasa. Kali ini saya mengalah, lebih baik dia merasa hepi dan toh tidak berdampak merugikanku, dia mengajakku ke tempat restoran mahal berduaan diluar kota. Inilah kisah yang tak pernah kulupakan, pembayaran fifty-fifty, dia tidak ingin dibayarin dengan alasan mahasiswa kere jangan memaksakan diri&#8230; Total makan Rp.99.500,00 plus parkir Rp.500,00, grand total-nya seratus ribu rupiah pas dan saya tidak pernah lupa&#8230; Dia juga selalu mengungkitnya dihadapanku&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Selanjutnya gaya pacaran kami lebih terbuka, bahkan salah satu dosen yang menganggapnya anak kesayangan protes mengetahui bahwa pacarnya adalah saya. Seorang mahasiswa kesayangan pacaran dengan mahasiswa yang pernah dimarahi olehnya karena dianggap melecehkan dirinya gara-gara bolos barengan se-gank dari kelasnya. Untungnya saya dikenal bukan mahasiswa bego, meski sering bolos tapi nilaiku tidak jatuh di mata kuliahnya. Yeah dosen ini sangat mengenal saya bersama dua temanku yang sering bolos bareng, bahkan sangat populer dimatanya namun pada dasarnya dia sangat menyukai karakter kami bertiga yang suka nyeletuk di kelasnya dan meski bengal tapi jika ditanya selalu berani menjawab dan berargumentasi, pastinya kelakuan kami menyebar ke kelas lain dan diketahui cewekku juga (padahal sudah ditutupi). Setiap ketemu kami ngumpul, dosen ini akan selalu tertawa dan mengolok nantangin kami bolos lagi, sumpah dech ngga berani bolos barengan lagi sejak itu tapi masing-masing. Ketika ketemu diluar kelas saja dia masih menyindir kami bertiga yang memiliki pacar yang terkenal pintar di kelas (pacar temanku IPnya setiap semester hampir 4 melulu meski IPKnya cuma mendekati 4 doank), tidak seperti kami yang kelakuannya hancur di kelas duduk di bagian belakang&#8230; Saya tak pernah lupa dengan dosen ini&#8230;, hari terakhir dikelasnya sebelum ujian ternyata cewek dari temanku pernah dimarahi bahkan sekelas dibentak karena kami bertiga telat dan dikira bolos lagi, ketika kami masuk barengan satu kelas memandang kearah kami dan tuh dosen liatin kami dengan pandangan aneh dan tertawa, awalnya kami tidak menyadari apa yang terjadi hingga dilaporin cewek temanku tersebut setelah kelasnya bubar&#8230; Untungnya cewekku tidak sekelas denganku.., kalo ngga bisa-bisa dia yang dimarahin gara-gara saya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Putus kedua kali, 1 April, tepat april mop. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke HP-ku mengajak putus. Entahlah apa dia berpikir saya akan shock atau panik, saya membalas meng-OK-kan smsnya. Hanya selang sepersekian detik mobile phone-ku bunyi dan dia langsung bertanya apa saya serius atau tidak. Saya mengiyakan saja, terkesan dingin, bahkan mengatakan kalo dia tidak ajak putus juga sebenarnya saya sudah kepikiran untuk memutuskannya&#8230; Suaranya berubah gemetar, dan saya tertawa mengomentari, “Makanya jangan jahil gitu, emank cuma lu doank yang tahu hari ini April Mop?”. Yang kedua kali ini cuma bercanda doank.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Hubungan saya dan dia berjalan seperti biasa, bahkan terkesan monoton, perdebatan hanya terjadi sesekali doank&#8230; Dia mulai jarang ngomel sejak putus sebulanan tersebut. Salah satu kakaknya yang telah married di Jakarta hamil dan melahirkan, karena tidak punya pengalaman mengasuh anak maka Ibunya ke Jakarta membantu kakaknya mengurus bayi tersebut. Sisa dia dan abangnya dirumah, saya lebih sering diminta menemaninya dirumahnya ketika dia sendirian, bawaan wajibku yang diharuskannya adalah mesin PS-ku dan CTR. Saya berada dibelakangnya memeluknya sambil main game tersebut dan selalu memenangkan permainan tersebut karena memang lebih expert. Suatu ketika dia mengomel marah, saya keheranan kenapa mendadak emosi karena saya ngga mau ngalah.., dengan enteng kutanyain, “lagi M ya?”. Dia terdiam lama, saya yang semakin keheranan dengan sikapnya tersebut dan tiba-tiba dia tertawa&#8230; Dia mengiyakan pertanyaanku dan mengatakan jangan-jangan marahnya emank karena lagi M, saya hanya mengomentari,”dasar cewek&#8230;”. Setelah keseringan main game ini justru lama-lama saya yang sering kalah darinya&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Karena telah kelamaan di Jakarta meninggalkan anak bungsunya sendirian yakni cewekku, kakaknya bersama Ibunya kembali ke kota ini bersama sang bayi. Saya sempat keheranan ternyata dia lebih ahli bersama bayi dibanding kakaknya, bahkan keponakan barunya itu lebih dekat dengannya dibanding dengan sang Ibu, hasilnya setiap mojok tuh selalu bersama keponakannya. Akhirnya setelah beberapa bulan kakak dan keponakannya kembali ke Jakarta.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Tahun ketiga, kuliah, hampir tiga tahun juga saya bersamanya&#8230; Saya mulai mengerjakan skripsi ditahun ketiga, dia belum. Tidak banyak hal berubah. Saya mendengar kakaknya yang membiayai kuliahnya akan pindah ke Batam, selang beberapa bulan kakaknya pindah ke Batam sambil kredit rumah di sana. Saya tak menganggap hal demikian perlu kuurusin&#8230; Suatu ketika dia mengatakan setelah selesai kuliah dia diminta kakaknya ke Batam bekerja disana&#8230; Saya tidak menganggap serius juga, masih belum kepikiran dampaknya pada hubungan kami&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Pada masa-masa ini saya bermasalah dengan salah satu kenalanku di kampus, dia menggoda cewekku dan hasilnya saya yang tidak terima. Senat merencanakan acara jalan-jalan mahasiswa dari berbagai jurusan, saya tidak tertarik ikutan sedang cewekku bersama teman-temannya. Salah satu kenalanku yang selama ini penasaran siapa sih cewekku pada akhirnya sadar setelah mendengar namanya. Kenalanku ini yang merasa saya tidak pernah mengambil serius kalo cewekku di goda teman-temanku mulai menggodainya&#8230; Cewekku menangis, yeah&#8230;, itu bukan menggoda lagi, tapi melecehkan tanpa respek. Hanya butuh sehari saya mendatangi cowok tersebut, selang berapa minggu tuh cowok berhenti kuliah. Saya hanya memintanya respek dengan orang lain, tapi memang mukaku jelas menunjukkan kemarahan, dia yang ketakutan meminta backing dua orang berbadan fitness temannya untuk bersamanya setiap hari, yeah karena setiap ketemu dia saya memandang penuh intimidasi. Saya tidak terlalu peduli dua orang berbadan gede itu, sia-sia doank dengan tinggi hampir 180 dan sudah fitness sejak SMA takut ama dua orang yang masih norak mulai fitness setiap hari pake baju ketat busungin dada &#8211; tarik perut ke dalam &#8211; show off di kampus haha&#8230;, alasan lainnya teman baikku preman kampus dan satpam di kampus tuh juga temanan denganku, jadi kalo macam-macam abis dech&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Kisah kedua di masa ini lagi-lagi cowok yang masih norak mulai bodybuilding, merasa tubuhnya seksi atletis doyan pake baju tanpa lengan dan body-fit (saya tau cowok ini sering ng-gym satu lokasi ama saya, masih newbie di tempat fitness). Pede banget menyamperin cewekku dan merayunya tepat ketika saya disamping cewekku yang lagi ngobrol (tapi dipisahin tiang sehingga terkesan emank ngga berduaan). Saya sih ketawa cengengesan aja, cewekku yang melirik kearahku mengerutkan kening melihat reaksiku, seolah ingin minta tolong usir tuh cowok – cewekku bukan orang yang berani ngomong terus terang kalo ada apa-apa. Saya yang uda sering ngedengerin curhat cewekku soal cowok yang ngejar dia ini agak penasaran melihat bagaimana caranya dia ngegoda cewekku yang dikiranya single (salah cewekku sendiri yang ngga ngaku uda punya cowok jadi ngga bakal dikejar ampe begini). Hanya selang berapa saat cowok itu merayu cewekku tiba-tiba ada teriakan temanku dari belakang manggilin cewekku suruh jangan selingkuh depan saya, saya langsung noleh ke belakang mandangin temanku&#8230;, cewekku cuma ketawa doank dan tuh cowok buru-buru pergi, sadar dengan keberadaanku yang dia juga sebenarnya sering liat di gym.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Entah kenapa pada masa ini dia sering di ganggu cowok lain&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Waktu berlalu, setelah saya selesai dengan skripsiku, dia sedang mengerjakan skripsinya. Saya telah mendapat pekerjaan baru yang mewajibkanku ke Jakarta. Waktu berjalan cepat, hitung mundur ke setengah tahun dia akan ke Batam. Hari terakhir bersamanya, saya tak pernah tau bahwa itu juga hari terakhir saya bersamanya di kota ini, kupikir dia tidak akan langsung pergi setelah menyelesaikan skripsinya. Saat itu hari minggu pagi, setelah menemaninya ke gereja (kami beda agama tapi masih beribadahnya di tempat yang disebut gereja, dia relijius dan saya tidak) kami berjalan berdua di Mall. Dia terlihat tidak biasa, saya tidak menyadari bahwa itulah hari terakhir kami bersama di kota ini. Dia terus memeluk lenganku sambil berjalan di mall, tidak seperti biasanya lebih diam dan terus memperhatikanku seolah ada yang ingin dikatakan&#8230; Saat mengantarnya pulang dia terus memelukku diatas motor, hal yang juga tidak biasa dilakukannya&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">“Dari semalam kepikiran bagaimana kalau kita tunangan aja&#8230;”.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Jujur saya kaget dengan pernyataannya, kuakui keseriusanku tapi tak pernah berpikir sejauh itu. Dia mengatakan mungkin ini akan menjadi hari terakhir saya dan dia bertemu di kota ini dan tidak  tahu lagi kapan akan ketemu. Seandainya dia tidak mengatakan mendadak seperti ini, jujur saja saya tidak pernah siap menghadapi hal demikian secara mendadak. Saya merasakan mataku berkaca, tidak pernah menyangka hari itu akan terjadi seperti ini&#8230; Saya mengantarnya pulang sore itu, menemaninya hingga malam tanpa banyak percakapan dan tawa seperti biasanya, saya merasa kehilangan kata-kata dan melihatnya menangis. Meski saat itu saya merasa saya telah siap untuk hal demikian, telah mempersiapkan diri sejak dia memberitahuku jauh sebelum hari terakhir bersamanya ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Keesokannya paginya saya berangkat ke Jakarta. Hampir setiap malam kami masih berhubungan, telepon tengah malam saat itu lebih murah. Saya masih sering meneleponnya dan dia juga demikian meneleponku setiap malam. Sepertinya cintaku berat diongkos. Setelah beberapa bulan dia akhirnya pergi ke Batam dan saya di Jakarta&#8230; Dia diterima bekerja di bank swasta disana pada bagian customer service, lokasi Nagoya. Setelah diterima, dia masih punya waktu lumayan lama sebelum mulai bekerja soalnya dia diterima di kantor cabang yang baru akan buka&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Tiba-tiba dia mengabariku sedang berada di Jakarta. Tentu saja saya kaget dan senang mendengar kabarnya tersebut&#8230;, ternyata cewekku ahli juga memberi kejutan. Dia berada di rumah kakaknya yang beberapa waktu lalu baru menjadi Ibu tersebut. Saya kesana, nginap di sana&#8230;, menghabiskan waktu bersamanya yang hasilnya kos yang dibayar perusahaan tidak ditempati dech&#8230; (Maaf boss, abisin biaya sia-sia perusahaan).. Kami sering berjalan bersama, dia lebih hafal lokasi Jakarta dibanding diriku. Ketemu lagi dengan keponakannya yang ternyata semakin agresif terhadapku. Setiap melihatku muka sang bayi akan memerah dan menarik rambutku dengan gaya seolah gemas denganku, entahlah, saya tidak biasa dengan bayi dan tidak mengerti isi pikirannya. Cewekku selalu mengarahkan bayi itu ke wajahku dan selalu berakhir tuh bayi merusaha menjambak rambutku dengan muka memerah, padahal ke orang lain tidak pernah demikian.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Mobile phone-ku hilang. Saya tidak menghubunginya tapi menelepon saudaraku mengurus memblokir nomorku dan mengurus nomor tersebut kembali. Mobile phone hilang siang hari, setelah sore baru kuurus, sore sampai malam cuma mengurus hal demikian dan mengabaikan cewekku. Kopaja 86, saya tidak pernah lupa kejahatanmu kepadaku. Setelah semua urusan selesai baru mengabarinya&#8230;, ternyata dia yang panik karena saya tidak bisa dihubungi dan tidak mengabari apa-apa, aduh bener-bener dech saya jadi merasa ngga enak membuatnya panik akibat kelakuanku yang tanpa kabar seharian. Esoknya saya memperoleh nomor tersebut kembali dan tentu saja terpaksa merelakan mobile phone kesayangan yang kubeli dengan tabungan gaji itu pergi&#8230; Hatiku hancur untuk pertama kalinya karena hilangnya gadget kesayangan ini&#8230; Tadinya saya berniat menggunakan uang yang ada di rekening untuk membeli cincin kepada cewekku, tapi prioritas musti beli pengganti mobile phone dulu, kalo ngga ntar susah dicari lagi ama keluarga dan cewekku ini&#8230; Cincin yang diminta sebagai simbol keseriusanku terpaksa ku cancel, dia tidak pernah tahu saya sebenarnya telah berniat membelikan permintaannya, untungnya saya tidak menjanjikan apapun sehingga tertunda hingga batalnya niat ini tidak memberi dampak psikologis ke dia. Seandainya saja Key Card rekening lainnya kubawa mungkin saya tetap membelikan cincin yang dimintanya&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saat di Jakarta, saya ulang tahun. Saya tidak sadar tanggal dan tidak terlalu peduli, dia tiba-tiba membelikanku sendal dan mengajak jalan bersama kakaknya&#8230;, mereka membeli kue ultah dan merayakan ultahku. Saya tidak nyaman tapi mau gimana lagi, memang kenyataannya saya tak pernah merayakan dan tidak ingin sama sekali&#8230; Kesalahanku fatal kali ini, saya tidak nyaman memakai sendal yang diberikannya. Hasilnya ketika berjalan dengannya sehari sebelum dia kembali ke Batam, saya memakai sendal lamaku. Saat itu mood-ku juga sedang tidak baik, tapi tidak bisa dibilang buruk. Dia kecewa dan saya tidak peduli, dia menganggap saya tidak menghargai pemberiannya&#8230;, hari terakhir berjalan bersama malah menjadi perdebatan. Dia mengajak putus, kutolak seketika. Dia pernah mengatakan kepadaku kalo suatu saat dia mengajak putus jangan diiyakan karena dia mengandalkan emosi saat mengucapkannya&#8230; Saya menyesal dengan kelakuanku yang melukainya, padahal dia menabung dengan uang jajannya (maklum dia pengangguran) demi membelikan sendal itu, sampai sekarang saya masih kecewa juga dengan kelakuanku itu. Keesokan paginya saya mengantarnya ke bandara. Entahlah apa yang kurasakan pada saat itu&#8230;, tidak sedih tapi juga tidak bereaksi apapun, saya hanya mengatakan jika memang ada pekerjaan di kota dimana kami bersama sebaiknya kembali saja kesana&#8230;, dia mengatakan tidak bisa untuk saat ini, kakaknya yang meminta dan pada dasarnya dia tidak pernah mau pergi. Saya kehilangan kata-kata, dia tersenyum dan mengatakan akan memberi kabar setelah sampai disana dan memintaku menjemputnya setelah dua tahun dia disana.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Setelah dia di Batam saya tak pernah merasa jauh darinya. Kami masih berhubungan lewat mobile phone. Seringkali dia mengeluh kecapean bekerja, bahkan maag-nya kambuh pernah pingsan di tempat kerja&#8230; Saya tidak tau harus bagaimana, tidak bisa ada untuknya seperti dulu, yang bahkan dulu dia kena demam sedikit doank saya uda yang temani dia, beliin obat dan sebagainya.. Kini setiap pulang kerja jam 7an saya selalu mempertimbangkan mau meneleponnya atau tidak. Berpikir apakah mengganggunya yang cape bekerja atau tidak&#8230;, dia tidak pernah tau isi pikiranku tersebut. Hasilnya seringkali saya tak berani menghubunginya seperti dulu ketika dia belum bekerja&#8230; Perlahan saya mulai merasakan hubungan kami renggang, dia mulai sering memiliki masalah yang saya tak bisa membantu seperti dulu, hubungan jarak jauh seperti ini sejak awal sulit untuknya&#8230; Dia mengakui banyak hal berubah, saya tidak bisa ada untuknya seperti dulu, dia benar&#8230; Dia memang tak pernah mau ke Batam tapi kakaknya yang telah membiayai sekolah dan hidupnya tak mungkin bisa diabaikannya&#8230;, apalagi pengorbanan kakaknya cukup besar untuknya dan juga kakaknya sendirian di Batam. Bagaimanapun saya harus mengakui apa yang kulakukan untuknya tidak sebanding dengan apa pengorbanan kakaknya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Suatu ketika dia mengakui kakaknya memintanya putus denganku karena hubungan kami hanya menjadi beban untuknya&#8230;, memintanya fokus bekerja. Selang beberapa hari, hari itu terjadi, tepat pagi saat saya akan kembali ke kota ini dia mengirim pesan singkat meminta mengakhiri hubungan ini. Saya mencoba menghubunginya berkali-kali tapi dia tidak mengangkat&#8230;, tidak ada yang bisa kusalahkan, saya telah menyadari hari ini pada akhirnya akan terjadi.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Kota ini, akhir tahun, di bandara saya mencoba menghubunginya kembali, dia mengangkat teleponku dan menangis minta maaf. Saya merasa kosong, tak bisa berbuat apapun untuk mendapatkannya kembali. Malamnya saya ke tempat Ibunya, saya menyadari mataku memerah dan berkaca&#8230;, menasehatiku jika memang jodoh tidak akan kemana. Ibunya menceritakan anak bungsu cowoknya meninggal saat SMA dan dia harus merelakan, saya yang cuma berpisah harus lebih bisa tegar.., dia benar. Saya masih sering ke tempat Ibunya tanpa sepengetahuan mantanku&#8230;, saya tak pernah menceritakan kepada mantanku, menghubunginya lagi juga tidak.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Harus kuakui, perpisahan ini membuatku berubah, saya menjadi pendiam dan menjaga jarak dengan wanita, mencoba menjaga hatiku dan menutupnya. Lebih dari setahunan sendirian, hanya bekerja dan pulang ke rumah sendirian (sejak dulu memang hidup sendiri), bahkan tidak berusaha bersama teman-temanku yang kurasakan mereka punya kehidupan sendiri&#8230;, rumah berubah seperti kapal habis kena tsunami. Kota ini mengkhianatiku, kemanapun melangkah selalu ada kenangan bersamanya yang terlintas dipikiranku, saya menyadari tidak mempersiapkan diri sebaik yang kukira untuk pisah dengannya. Tidak berusaha untuk membuka hatiku, meski justru semakin banyak wanita yang dekat denganku&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Pada satu titik saya merasa apa yang kupendam menumpuk, kutelepon dia, dia tertawa dan terkesan ceria (atau berusaha menunjukkan kepadaku bahwa dia baik-baik saja, entahlah), dia mungkin telah bahagia dengan hidupnya dan saya menghabiskan hari-hari dan malam-malam yang paling suram dan jahanam dalam hidupku&#8230; pada akhirnya saya mengucapkan kata-kata yang offensive – tipikalku menurutnya kalo ngomong bisa menusuk orang sangat dalam, meski tidak memaki atau mengucapkan kata kasar&#8230;, dia menangis karenaku, saya menyakitinya dan menyadari tangisannya membuatku terluka&#8230;, saya sukses menyakiti orang yang ku sayang&#8230; Saya meminta maaf, dia menjawab sejak dulu selalu memberi maaf kepadaku&#8230;. Sejak itu saya memutuskan membiarkannya bahagia, meski itu berarti saya harus pergi dari hidupnya&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Inilah titik saya merasa menjadi seorang yang bisanya hanya menyakiti perasaan cewek-cewek, dia tidak menjadi yang terakhir untuk kusakiti. Perjuangan telah usai – saya kalah terhadap diriku sendiri, saatnya petualangan baru dimulai&#8230;, titik dimana saya menjadi ahli menyakiti cewek-cewek&#8230;. Titik dimana saya bahkan menyakiti hati my first love atas dasar keegoisanku yang ingin memilikinya&#8230;, dan jelas menyakiti hatiku sendiri. Seandainya hati ini bisa dikendalikan, seandainya bisa menerima orang yang kusayang berhak bahagia meski tanpa diriku&#8230;, saya sadar hatiku mengendalikanku tidak bisa menerima dia  bukan bagian dari masa depanku, tapi dia akan selalu menjadi bagian masa laluku&#8230; Bagian yang tak akan pernah hilang, tak akan pernah kulupakan&#8230;, dari dia saya belajar tentang sayang yang tidak mengandalkan nafsu&#8230;, sayang yang benar-benar menjaganya selama bersamanya tanpa punya keinginan jauh yang sebenarnya sejak awal bisa kulakukan untuk mengikatnya&#8230; Saatnya memulai petualangan baru&#8230; Saya menyadari bayang-bayangnya tak pernah lepas, dari situlah pada akhirnya saya tak pernah memulai kisah cinta kembali, namun justru disinilah hati orang lain kusakiti&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Apa yang kubanggakan dari diriku? Entahlah&#8230; Sifat jutek? Ngga pedulian? Kalo ngomong suka sembarangan ngga mikirin perasaan orang? Yeah&#8230;., itu sifat yang telah mendarah daging di diriku, ngga perlu dibilangin juga uda ngerasa sendiri&#8230; Bahkan saya tidak tahu sifat baikku ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saya tidak punya kehidupan, hanya bekerja dan pulang ke rumah sendirian setiap harinya&#8230;, kalaupun diajak teman keluar saya hanya menerima ajakan itu sesekali, mereka mengatakan saya berubah menjadi pendiam dengan pemikiran yang sangat berbeda dengan diriku sebelumnya, memang kuakui sejak saat itu saya tidak memandang segala sesuatu secara hitam dan putih lagi. Hal yang tak pernah disadari temanku, saya tak pernah menunjukkan rasa sakitku, tampak sangat biasa seolah tidak terjadi apa-apa&#8230; Tidak pernah mengungkit mantanku ini, habis mau gimana lagi&#8230;, kalo orang lain bisa jelekin mantannya setelah putus, saya bahkan belum menemukan celanya&#8230; Kalo dia ngomel juga kebanyakan karena kesalahanku, trus juga untuk kebaikanku. Perhatian, yah saya kalah dari dia ni soal saling memperhatikan&#8230;, makan aja kalo bukan karena dia tuh pola makanku sembarangan. Pintar? Yah jelas IPnya diatas saya&#8230; Rajin? Kuakui saya jelas lebih pemalas. Pekerja keras? Yup&#8230;, kalo saya kerja aja bergantung mood.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Mau jelekin dia? Dia bahkan ngga pernah ngejelekin orang di belakang&#8230;, palingan kalo diapa-apakan dia berusaha objektif ceritain masalahnya. Selingkuh? Hell&#8230;, setiap cowok dekati dia aja kasih laporan ke saya&#8230; Mobile phone-nya aja sering nitip ke saya, jadi gimana dia berani selingkuh meski lewat mobile phone (tapi saya juga sering nitip mobile phone ke dia). Perhitungan? Ngga sama sekali, rela banget keluar duit buat keluar kalo saya lagi bokek&#8230; Menuntut? Tidak&#8230;, dia membebaskanku, tidak mengikatku harus selalu bersamanya, saya bebas mau keluar ama teman&#8230; Cengeng? Iya ni tapi kan bukan sifat jelek haha&#8230;, untungnya saya bukan pelaku yang membuat dia nangis, yang ada dadaku yang jadi bantalannya&#8230; Meski endingnya sayalah pelaku terjahat.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Berakhir sudah masa bersamanya.. Petualangan baru dimulai&#8230;, bukan kisah saya mencari cinta&#8230;, kisah hampir dua tahun saya bersikap seenaknya kepada cewek yang ku kenal.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Semasa bekerja&#8230;, saya mengenal seorang cewek, beda 4 tahun dibawahku&#8230;, wajah sih biasa aja, masih kekanak-kanakan, belum pernah pacaran (sama seperti my ex sebelum denganku). Saya tidak memiliki ketertarikan kepadanya&#8230;, rekan kerjaku beberapa tertarik kepadanya karena otaknya encer (kalo soal fisik honestly I don&#8217;t know, relatif&#8230;). Saya hanya tahu bahwa dia pintar&#8230; Kenalan pertama kali di ruang meeting, masih baru. Saya menggodanya seketika, candain dia&#8230;, kalo ngerayu cewek jujur saja saya tidak berbakat, tapi kalo candain yah lain cerita&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Singkat cerita, entah bagaimana kami mulai dekat.., dia sering meneleponku, curhat masalah keluarganya&#8230; Tidak ada yang spesial, orangnya mandiri dan terkesan tomboy. Perlahan semua rekan kerja menggodai kami berdua&#8230;, saya sih biasa saja karena masih patah hati jadi ngga terlalu peduli. Sifatku rada jutek, ngebetein siapapun di sekitarku seperti halnya ke dia&#8230;, tapi jangan ditanya kenapa malah dia tertarik, padahal dia pernah protes sikapku yang suka berubah kadang betein kadang candain dia&#8230; Entah kesambet setan apa, saya tanya ke dia mau ngga jadi pacarku dan semudah itu dia mengiyakan&#8230; Hanya dalam hitungan sebentar doank saya mengatakan ke dia temanan aja&#8230; Dia juga tidak terkesan sedih dengan gayaku itu&#8230;, sepertinya sadar saya memang sejak awal hanya sekedar asal ngomong doank&#8230; Salahku, dia menangis di telepon, saya tidak merasa iba, lebih baik demikian sejak awal&#8230; Saya masih mencoba bersikap baik, sms menanyakan kabarnya, tapi dalam hitungan sesekali sebulan dan di responnya&#8230; Saat itu dia telah berhenti kerja (entah karena saya atau bukan, tidak pernah tanya&#8230;).</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Setelahnya di kos, Jakarta kembali&#8230;.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saya mengenal seorang cewek, rumahnya depan kos-kosan, masih remaja, salah satu adiknya masih kecil belum TK. Hampir setiap malam, saya bermain bersama anak kecil tersebut, lebih menyenangkan berdebat dengan anak kecil, walau saya sebenarnya tidak pernah bisa dekat dengan anak-anak&#8230; Tapi karena memang setiap malam ketemu dia main diluar dan saya sering menghabiskan waktu diluar rumah kos daripada di kamar mengurung diri yang bisa dikira depresi jadi lebih baik menghirup udara berpolusi malam hari diluar&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Seringkali kakaknya datang, nimbrung&#8230; Lumayan sih secara fisik, cuma terlalu berisi, dan bukan tipeku. Kadang-kadang saya males keluar malam, tuh cewek cariin ke kos&#8230;, tapi ngga langsung nunjukin cari saya (atau saya yang kegeeran ya?) dengan bermain bersama orang di kos-kosan&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Beberapa kali ajak ngobrol sering bermain fisik, pegang saya atau apalah.., saya tidak terlalu suka hal beginian. Dengan di dukung penguasaan membaca bahasa non verbal yang masih dalam taraf amatir saya ngerasa nih cewek tertarik padaku. Saya membiarkan dia berusaha dekat denganku karena tau ngga lama di kos ini&#8230; Meski demikian ada cewek di kos yang secara fisik lebih menarik, seksi dan manis&#8230;  Tidak ada hal yang timbul antara saya dan cewek di kos yang seksi ini, dia punya 3 cowok dan saya tidak ingin jadi koleksinya&#8230;, meski sering main ke kamarnya&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Skip dari masalah nih cewek seksi, cewek lain yang tinggal dekat kos-kosan&#8230; Dia mulai minta nomor teleponku, kuberikan, hampir setiap malam sms saya, saya biarin karena kebanyakan basa basi: Lagi ngapain? Uda makan belum? Seharian ngapain aja? Met bobo ya, mimpi yang indah. SMS yang demikian kuanggap menghabiskan waktu untuk direspon&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Well, salah seorang teman kos-ku yang justru sejak awal saya datang sangat baik denganku dan akrab denganku naksir dengan cewek ini. Saya tak pernah tahu, dia tidak pernah cerita&#8230;, anaknya terkesan kalem dan menutupi. Melihat saya yang sering main dengan adik si cewek, dia mulai tanya-tanya soal hubunganku dengan si cewek&#8230; Saya tidak menjawab karena merasa nih cowok seperti mencampuri urusan pribadiku&#8230; Tapi karena sesama cowok hal beginian tidak menimbulkan konflik&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Perlahan saya mulai merasa nih cewek semakin agresif, yah saya memberi harapan kepadanya, merespon dia&#8230; Sebenarnya karena merasa ngga enak hati aja karena pada dasarnya nih cewek baik&#8230; Dia semakin bersemangat mencariku, hingga berduaan. Nih cowok ngga senang dengan apa yang terjadi&#8230;, saya tidak tahu harus menempatkan posisi dimana hingga akhirnya nih cowok terus terang&#8230; Fair enough, kalo ngga terus terang saya kan tidak kepengin sok tau perasaannya dengan bertanya duluan cemburu ya saya dekat ama tuh cewek.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saya menghindar dari tuh cewek, dia bertanya salahnya apa, saya ngeles semauku&#8230; Pada akhirnya saya keluar dari kos, kembali ke kotaku&#8230; Selanjutnya setiap teleponnya ku reject dan tidak menanggapi sama sekali sms tuh cewek hingga setengah tahun hingga dia stop sms&#8230; Bagaimana kisah antara tuh cowok dan ni cewek? Entahlah&#8230;, tidak mengurusi hal demikian&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Sampai saat itu yang kulakukan masih waras-waras aja menurut takaranku&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Kembali ke kotaku, saya mengalami distraction&#8230; Pikiranku tidak fokus masih memikirkan mantanku dan kali ini memikirkan teman baikku seorang cewek yang telah ku kenal sejak awal SMA juga sedang patah hati, kelakuannya lebih parah menyiksa diri dan saya menjadi satu-satunya teman yang ada saat itu, teman lainnya pada tidak ada lagi di kota ini atau memiliki hidup sendiri – entahlah teman lain menyuruhku untuk menghibur dan menemaninya hingga pada akhirnya dia masuk rumah sakit. Waktu berjalan, saya mulai mencoba menjalani hidup kembali, menata hidupku&#8230;, tried to looking for a way to deal with my pain.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Sebuah tawaran datang, sekolah lagi dan melakukan hal berbeda, hidupku terlalu monoton dan berantakan&#8230;, tawaran tersebut tentu saja tidak kusia-siakan. Orang tuaku tidak setuju karena saya semakin jauh dari mereka, tapi saya telah berpikir perlu suasana baru dan kehidupan baru. Akhirnya setelah meyakinkan orang tuaku, saya resign dan pergi dari kota ini, dari negara ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saatnya memulai kehidupan baru&#8230;, masa lalu tidak pernah kulupakan, saya belajar dari hal tersebut. Setelah 4 tahun bersama, dan 2 tahun berpisah, saatnya pergi dari kota ini, mencoba untuk tidak lagi kembali ke kota yang membesarkanku, tempat dimana saya ditempa&#8230;, belajar tentang hidup, hancur disini, dan membentukku&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Setahun setelah pergi&#8230;, kini&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Seorang wanita hadir di hidupku, pada awalnya saya tidak mencoba membuka hatiku&#8230; Saya peduli dengannya karena dia mengalami hal yang sama, sendirian. Setelah mengenalnya kami mulai akrab, dia sendirian saat ini dan saya pernah pada posisinya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saya tidak menyangkal tidak mempercayai cewek ini seperti halnya saya mempercayai mantanku. Hubungan ini diawali kebohongan meskipun saya tidak tahu salah atau benar, entahlah dia memulainya dengan kebohongan dan saya mengawali dengan tidak membuka diri, tapi ternyata tidak berjalan dengan mudah. Pada akhirnya saya harus jatuh kembali, kali ini justru karena kesalahanku bermain dengan api setelah mengetahui kebohongan ini&#8230; Seorang cewek yang menangis di dadaku dan kubiarkan ternyata menutupi memiliki hubungan dengan cowok lain sejak awal&#8230; Bahkan pada jarak yang telah intim dia sukses menutupi dan membutakan penglihatanku&#8230;, tapi siapa sih saya berhak untuk menilai hal begini salah? Dia mengkhianati komitmennya, tapi tidak berarti salah terhadapku&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saya merasa tenang dengan kesendirianku, justru dekat dengan wanita pada akhirnya hanya mengusik ketenanganku, menjatuhkanku, hal sederhana yang malah membuatku merasa menjadikannya rumit. Ada keinginan mengakhiri hubungan ini apalagi dia, tapi ketika perasaan berbicara, pertimbangan logikaku terabaikan&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Hubungan yang kuakui sulit untukku, yang membuatku dalam posisi paling dilematis untuk melakukan tindakan apapun, dimana jika memperjuangkannya hanya akan menyeretku terlalu dalam ke komitmen orang lain, padahal saya toh tidak perlu selalu mengikuti hatiku&#8230; Kali ini saya percaya free will, kebebasan berkehendak, tidak pernah berhak atas hidup orang lain dan tidak perlu memberi penilaian yang benar maupun salah untuk masalah orang lain.., untuk apa yang dilakukannya. Cewek terakhir ini&#8230;, akan menjadi bagian yang akan selalu ku kenang, menjadi salah satu bagian masa lalu yang tidak terlupa.Who I am to judge that I cannot fall again&#8230;, but at least I won&#8217;t let myself beat me down again. She is attached to other string, and I broke my last heartstring to opened up my eyes.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Now I realised that I work through pain&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong>18/05/09 11.38PM</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=168&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/05/18/try-to-let-her-go/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3fde3505b0ffcb5afea92d55553a4127?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Night vs Lembayung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://malamungu.files.wordpress.com/2009/05/lost_angel_by_protogeny.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lost_angel_by_protogeny</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencintai Suami Orang</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/05/18/mencitai-suami-orang/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/05/18/mencitai-suami-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 08:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung – SOLO the spirit of java Beberapa waktu yang lalu, saya mendengarkan curhat seorang teman. Seorang teman yang terlibat percintaan dengan pria yang sudah beristri. Selama ini saya selalu mencibir atau membentuk senyum sinis pada sudut bibir saya jika mendengar atau membaca cerita tentang hal demikian. Tapi kali ini tidak. Karena saya melihat sendiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=164&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lembayung – SOLO the spirit of java</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-73" title="Mencintai-suami-orang-pic" src="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/05/mencintai-suami-orang-pic.jpg?w=300&#038;h=248" alt="Mencintai-suami-orang-pic" width="300" height="248" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, saya mendengarkan curhat seorang teman. Seorang teman yang terlibat percintaan dengan pria yang sudah beristri. Selama ini saya selalu mencibir atau membentuk senyum sinis pada sudut bibir saya jika mendengar atau membaca cerita tentang hal demikian. Tapi kali ini tidak. Karena saya melihat sendiri betapa teman saya begitu terluka, bahkan sampai saya tak tahu harus memberi saran apa karena melihat sorot matanya yang putus asa dan rapuh.</p>
<p>Setiap orang yang pernah terlibat dalam affair seperti ini pastilah punya alasannya masing-masing. Entah alasan itu berupa fakta yang logis dan rasional, atau sekedar pembenaran emosional belaka. Dengan dalih baru tahu belakangan kalau sang pria sudah beristri dan sudah terlambat untuk menghentikan perasaan cinta yang menggebu-gebu, atau bahkan sudah tahu dan sadar sejak awal bahwa hubungan itu berjenis affair yang dibangun di atas ketidak-seharusan. Dan saya tak pernah sekali pun menanyakan apa yang sedang terjadi antara dia dan pacarnya yang juga suami orang lain.</p>
<p>Teman saya menggambarkan dengan detail bahwa perasaannya hancur ketika mengingat waktu yang terus berjalan,  bukan berhenti saat ini dimana dia merasa bisa memiliki laki-laki itu untuk dirinya sendiri. Hatinya tersayat sekoyak demi sekoyak bersama detik waktu yang berlari maju. Maju dan semakin meninggalkan dia dalam palung cinta kemustahilan yang semakin curam dan curam. Dia mengatakan cukup tahu diri dan tidak tega untuk meminta laki-laki itu memilih diantara dia dan sang istri. Saya memahaminya&#8230;., meski terlihat keras, tapi soal cinta, semua indera kadang menjadi tak mencecap atau bahkan menjadi terlalu sensitif. Dia tidak tega terhadap istri affairnya karena merasa sama-sama perempuan dan menurutnya sama-sama tersakiti. Well, saya pikir ini memang tidak adil untuk kedua perempuan ini. Menjadi seorang istri yang suaminya punya affair sungguh merupakan situasi yang tidak pernah diinginkan perempuan mana pun juga. Demikian pula, menjadi seorang perempuan selingkuhan juga mengalami siksaan batin, masih ditambah stigma negatif yang selalu menempel di belakang predikatnya. Perempuan selingkuhan, penggoda suami, penghancur rumah tangga, atau perebut suami orang. Hm&#8230; membayangkannya saja saya sudah ikut sakit hati. Untuk siapa? Untuk keduanya.</p>
<p>”Jadi kapan kamu mau menyudahinya,Non? Sudah cukup kau bermain api. Separuh renda di ujung gaunmu sudah mulai terbakar.”  Tanya saya padanya sambil melihatnya menghembuskan asap tipis hasil dari hisapan pendeknya. “Aku tidak main api. Aku hanya mengikuti lambaian hatiku. “ jawabnya sangat lirih sambil matanya menatapku lurus, mencoba meyakinkanku kalau dia baik-baik saja. “Baiklah, kalau kamu tak mau kubilang bermain api. Apa mau aku bilang kamu bermain air? Kamu bermain-main dengan kecipak air di pinggiran sungai, dan tanpa kamu sadar kamu sudah ada di tengah-tengah sungai dengan arus yang semakin deras? Api, air, atau apalah itu, you name it, yang jelas kamu sudah terlalu masuk ke dalam hal yang tidak seharusnya terjadi. Terbakar hangus, tenggelam, atau hancur. Itu suatu keniscayaan yang akan kamu dapat,Non.” Kata saya sambil menatap matanya lebih tajam, berusaha meyakinkannya kalau dia tidak baik-baik saja.</p>
<p>Terngiang di telingaku pembenaran-pembenaran yang pernah dikatakan teman saya ini, ” Dia menikah tanpa cinta, kehidupan pernikahannya datar dan tidak bahagia, keseharian hanyalah melakukan tanggung jawab semata.”  Waktu dia mengatakannya beberapa waktu yang lalu, saya hanya diam sambil memperhatikannya memainkan sendok ice-cream. Tiba-tiba kali ini saya ingin menjawabnya, “Non, apa pun yang dia katakan tentang kehidupan perkawinannya, whatever-lah itu, yang jelas itu semua bukan urusanmu! Itu masalah intern rumah tangga mereka. Apa kamu sadar bahwa dengan masuknya kamu dalam kehidupan mereka, itu membuat kehidupan mereka semakin kehilangan cinta, semakin datar, semakin tidak bahagia, dan semakin menyiksa? Semua jauh lebih baik sebelum kamu datang. Itu pasti.” Teman saya mengangguk kecil, dia tahu saya benar. Dan saya senang dia masih belum kehilangan akal sehatnya.  “Aku tak mau mendengar kamu ngomong bahwa kamu akan mengakhirinya. Pikirkan itu.” Pesan saya sebelum sebelum saya meninggalkan rumahnya yang terkesan tua, rapuh tapi tetap angkuh.</p>
<p>Teman saya menghempaskan tubuhkan tepat di sebelah saya, di sofa nyaman di suatu café tempat saya menunggunya setelah sebelumnya janjian via sms. Dari raut wajahnya yang cerah, saya berasumsi bahwa dia sedang mengalami hari yang menyenangkan. Tapi bagi saya ini tidak menyenangkan, karena hari yang menyenangkan bagi teman saya adalah kebersamaan, kemesraan, dan keiintiman dengan suami orang. Saya mencium aroma yang tidak saya sukai. Sesuatu yang semakin tak terkendali pada dirinya.  “Tequila Sunrise, 3 shots.” Pesannya pada waitress. “Kamu nggak waras!” bentak saya. Tetapi bentakan saya langsung berubah menjadi pelukan  support ketika dari mulutnya keluar kata-kata “ Saya sudah mengakhirinya. ‘Sudah’, bukan ‘akan’ seperti yang kamu bilang. I won.” Saya lepas pelukan itu dan melambai pada waitress ikut order minuman yang sama, Tequila Sunrise, 3 shots. Malam itu saya ikut berpesta dengan teman saya yang ternyata masih waras.</p>
<p>Cheers,</p>
<p>Lby (18-05-09; 1454)</p>
<p>Disclaimer: foto koleksi pribadi&#8211; lembayungsolo@yahoo.com.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=164&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/05/18/mencitai-suami-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/05/mencintai-suami-orang-pic.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mencintai-suami-orang-pic</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>15 Menit Bersama Paint</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/04/29/15-menit-bersama-paint/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/04/29/15-menit-bersama-paint/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 02:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>malamungu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Art]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=157&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-155" title="batman-beyond" src="http://malamungu.files.wordpress.com/2009/04/batman-beyond.jpg?w=600&#038;h=322" alt="batman-beyond" width="600" height="322" /><img class="alignleft size-full wp-image-156" title="bathush1" src="http://malamungu.files.wordpress.com/2009/04/bathush1.jpg?w=226&#038;h=271" alt="bathush1" width="226" height="271" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=157&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/04/29/15-menit-bersama-paint/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3fde3505b0ffcb5afea92d55553a4127?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Night vs Lembayung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://malamungu.files.wordpress.com/2009/04/batman-beyond.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">batman-beyond</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://malamungu.files.wordpress.com/2009/04/bathush1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bathush1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Me? Old-fashioned?</title>
		<link>http://malamungu.wordpress.com/2009/01/20/me-old-fashioned/</link>
		<comments>http://malamungu.wordpress.com/2009/01/20/me-old-fashioned/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 08:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://malamungu.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung – SOLO the spirit of java “Kamu sih Yung, kalo sudah suka sama cowok ya cuma suka sama ituuuuu….. terus. Kadang-kadang masih liat kiri-kanan dikit napa.” Begitu protes seorang sahabatku di suatu senja di dalam bus Damri jurusan Bandara-Rawamangun dan bahkan aku lupa apa yang sedang kami bicarakan saat itu. Yang terngiang-ngiang sampai detik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=143&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;">Lembayung – SOLO the spirit of java</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;"><img class="size-medium wp-image-149 aligncenter" title="happy-couple" src="http://malamungu.files.wordpress.com/2009/01/happy-couple.jpg?w=300&#038;h=227" alt="happy-couple" width="300" height="227" />“Kamu sih Yung, kalo sudah suka sama cowok ya cuma suka sama ituuuuu….. terus. Kadang-kadang masih liat kiri-kanan dikit napa.”<span> </span>Begitu protes seorang sahabatku di suatu senja di dalam bus Damri jurusan Bandara-Rawamangun dan bahkan aku lupa apa yang sedang kami bicarakan saat itu. Yang terngiang-ngiang sampai detik ini hanya sepenggal kalimatnya itu. Kupikir itu kalimat yang nyeleneh.<span> </span>Aku dipersalahkan karena seumur hidupku aku tak pernah mengenal pohon cinta yang bercabang. Terbiasa kenal cinta itu monokotil, alias nggak bercabang.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="SV">Wow… jangan-jangan konsepku ini udah kuno kali ya? Seumur hidup emang nggak pernah tuh bisa jatuh cinta kepada dua orang or more secara bersamaan. Suka ya cuma bisa sama satu orang, apalagi pacaran. Mungkin di kamusku cuma kenal replace kali ya, bukan add atau enqueue. </span><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="ES">Hahaha&#8230; Hikz&#8230; tapi kenapa ya aku diprotes begitu? Sama sahabat sendiri pulak? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="ES">Mungkin dia bete karena<span> </span>cuma nama cowok itu aja yang terus-menerus kusebut setiap curhat ke dia? Hahaha…. Mungkin juga. Karena aku tipe yang nggak pedulian mau tuh cowok pacarku atau bukan, suka ma aku atau nggak, tetap aja kalo udah suka ya suka aja. Sampai bosan dan ada mode replace. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="ES">Aku sebenarnya sih pengen juga ngrasain gimana sih bisa membagi-bagi hati untuk banyak orang? </span><span style="font-family:Arial;color:#daacee;">Kan</span><span style="font-family:Arial;color:#daacee;"> asyik tuh, bisa muat take and give or payback-nya banyak. Hihihi… Cuma kok nggak pernah bisa ya. Makanya itu… mungkin perlu merubah ke-old-fashioned-an-ku ini kali ya? Kupikir bagus juga sih….buat cadangan biar nggak gampang sakit hati karena tersedia stock penghibur. Hahaha…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="SV">Terima kasih deh, ni tulisan emang asli kacau abis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="SV">Cheers,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:#daacee;" lang="SV">Lby (20/01/09;15:58)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/malamungu.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/malamungu.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/malamungu.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/malamungu.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/malamungu.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/malamungu.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/malamungu.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/malamungu.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/malamungu.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/malamungu.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/malamungu.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/malamungu.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/malamungu.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/malamungu.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=malamungu.wordpress.com&amp;blog=2620808&amp;post=143&amp;subd=malamungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://malamungu.wordpress.com/2009/01/20/me-old-fashioned/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://malamungu.files.wordpress.com/2009/01/happy-couple.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">happy-couple</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
